“Jadi BPS fungsinya disini sebagai pembina. Kemudian nanti kita akan mendampingi terkait dengan update datanya. Serta pendampingan itu misalnya lewat kecamatan akan dikumpulkan para operator-operator desa. Mereka akan dibina dan nanti dari sana akan dikembangkan apa yang akan dilakukan dari waktu ke waktu secara periodik,” ujarnya.
Pihaknya juga menambahkan, untuk tahun 2024 ini program Desa Cantik diawali dengan sosialisasi.
“Kemudian untuk aplikasinya sudah 80 persen hampir rampung. Mudah-mudahan tahun ini juga akan bisa terkumpul data-data yang berasal dari BPS. Serta dari desa, dinas yang nantinya akan digabung di dalam satu sistem,” kata Zulkipli.
“Terkait kolaborasi sistem data ini. Pastinya kita bersama dengan Kominfo, juga dengan Bakorwil. Kemudian juga mulai dari Gubernur sampai dengan Kepala Desa. Juga yang pasti, sudah memakai alat digitalisasi,” tandasnya.
Terpisah, Kabid Pengelolaan Data dan Statistik Diskominfo Jatim Imam Fahamsyah. Untuk pengelolaan program Desa Cantik itu akan dikelola oleh satu tim.
Satu tim itu terdiri dari tiga pilar, yakni BPS sebagai pembina data, Kominfo wali datanya, kemudian Bapedda selaku koordinator data.
“Jadi kolaborasi ini yang kita lakukan berdasarkan Perbub jatim. Kemudian tiga pilar itu masing-masing melakukan tugas pengelolaan data. Itu rutin dilakukan setiap setahun sekali,” ujar Imam.
“Harapannya nanti ini turun ke level kabupaten kota. Datanya di masing-masing sama di tiga pilar BPS kabupaten kota, Kominfo dan Bapedda. Itu yang nanti kedepannya bisa bersinergi. Nantinya kalau sudah tersinergi bisa diimplementasikan ke masing-masing dinas (OPD). Kemudian turun ke kecamatan, desa atau kelurahan,” sambungnya.
Sehingga diharapkan bisa saling terkoneksi dari tingkat desa, kecamatan, ke masing-masing OPD, kabupaten/kota. Kemudian ke provinsi hingga ke pusat.
“Nah terkait prinsipnya kalau server itukan masing-masing provinsi, kabupaten atau kota harus punya. Tergantung dari kominfo masing-masing kabupaten/kota,” pungkasnya.//////










