Tingginya Harga Cabai Berkah Bagi Petani Untuk Pengembalian Modal Setelah Gagal Panen Pada Masa Pandemi

by -497 Views
Wartawan: Nurhadi
Editor: Herry W. Sulaksono
Pedagang cabai di pasar tradisional

Banyuwangi, seblang.com – Kenaikan harga cabai di beberapa daerah rupanya menjadi berkah  bagi para petani cabai. Mereka menilai kenaikan harga cabai mencapai Rp 100 ribu per kilogram ini, sebagai salah satu berkah untuk pengembalian modal setelah sekitar dua tahun gagal panen saat pandemi COVID-19.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Asosiasi Agrobis Cabai Indonesia (AACI) Banyuwangi, Nanang Triatmoko kepada sejumlah wartawan pada Senin (13/06/2022).

Menurutnya, kenaikan harga ini sebagai momentum bagi petani mengembalikan modal dan semangat untuk menanam cabai. “Karena selama pandemi COVID-19 2 tahun berlangsung ini, para petani gagal panen,” jelas Nanang.

Kegagalan panen cabai, kata Nanang, terjadi karena beberapa faktor, salah satunya karena anomali iklim yang mengakibatkan cuaca ekstrem selama 2 tahun belakangan.

“Hampir 90 persen petani cabai merugi. Selain karena pandemi wabah COVID-19, juga karena faktor cuaca yang ekstrem,” tambahnya.

Selanjutnya dia menuturkan untuk saat ini harga cabai meningkat tajam dan kondisi tersebut sangat dirasakan oleh para petani. Karena, selisih harga per kilogram di petani dan pedagang hanya sekitar Rp 2.000 hingga Rp 3.000, imbuh Nanang,

“Tentu ini langsung dirasakan oleh petani. Karena harga selisih cuma Rp 2.000 sampai Rp 3.000. Sebenarnya pedagang suka dengan harga standart, karena keuntungan mereka sama,” tambahnya.

Banyuwangi yang merupakan salahsatu sentra penghasil cabai nasional, kata Nanang, sudah memiliki tata niaga yang baik bagi para petani. Sehingga, permainan harga oleh pedagang tidak bisa dilakukan.

iklan warung gazebo

iklan warung gazebo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *