Beberapa kecamatan dengan sebaran kasus HIV terbanyak di kota yang dikenal sebagai serpihan tanah surga bagi wisatawan, antara lain kecamatan Muncar, Banyuwangi, Srono dan kecamatan Rogojampi, lanjut dia
“Berdasarkan data yang ada 30 persen kasus HIV merupakan pelanggan atau pengguna jasa layanan seksual komersial, 28 persen pasangan risiko tinggi dan 28 persen lelaki seks lelaki (LSL),” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya Neni Viantin Diah Martiva anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuwangi memberikan apresiasi atas langkah cepat dan tegas Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) bersama dengan instansi terkait dalam membatalkan rencana acara Diskusi dan Dialog Pelangi Laros bekerja sama dengan G.A.Y.a Nusantara Surabaya di salasatu Resto dan Cafe Banyuwangi beberapa waktu lalu.
Selain itu, sebagai politisi perempuan dia juga mengapresiasi kepedulian aktivis Banyuwangi yang tergabung dalam Majelis Silaturahim Aktivis Islam (MSAI) Kabupaten Banyuwangi bersama dengan sejumlah elemen masyarakat menggelar pertemuan dan menyatakan sikap menolak dengan tegas eksistensi Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) di Banyuwangi.
“Saya memberikan apresiasi kepada Bakesbangpol dan instansi terkait yang melarang pertemuan komunitas LGBT di Banyuwangi. Langkah tersebut merupakan upaya pencegahan karena Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang banyak pondok pesantren dan masyarakatnya yang agamis,” jelas Neni kepada Jatim Times, Kamis (16/3/2023).
Selain potensi mencoreng nama baik Banyuwangi, lanjut dia, yang membuat miris dalam beberapa waktu terakhir belum mampu meredam terjadinya peningkatan dugaan tindak kekerasan seksual dan pencabulan terhadap anak.
”Muncul hal baru yang membuat resah masyarakat Banyuwangi, makanya saya acungkan jempol kepada Bakesbangpol bersama instansi terkait yang sigap dan cepat mengambil langkah mengetahui ada undangan kegiatan yang jelas-jelas menamakan kelompok LGBT,” jelas Neni.









