Hal yang jelas cukup melelahkan, karena jarak tempuh Purwoharjo dengan Banyuwangi hampir 50 KM jauhnya.
“Sempat mengeluh capek, tapi anaknya antusias sekali, jadi lelahnya seolah tidak dirasa dan tidak dipikirkan,” ujarnya.
Perjuangan bahkan masih harus dilakukan menjelang pementasan. Di mana waktu pementasan dilakukan sekitar pukul 14.30 WIB. Sedang penari sudah harus merias diri sejak pukul 05.00 WIB.
Di tengah menunggu waktu untuk tampil, jelas gerah, letih pun sudah dirasakan. Namun sekali lagi itu merupakan dari perjuangan.
Semua rasa itu terbayar lunas, dengan penampilan yang berhasil memukau setiap pasang mata wisatawan.
“Semua terbayar lunas, karena ini pengalaman pertama bagi anak kami tampil di acara sebesar ini. Saya rasa ini sangat bagus untuk mewadahi kreativitas dan potensi anak-anak yang ada di Banyuwangi,” tandasnya.
“Waktu nonton anak-anak menari tadi benar-benar tercekat, haru, bangga. Nge-blend rasanya. Pasti ini akan menjadi salah satu pengalaman terbaik mereka,” timpal Retno Andari, salah satu orang tua penari Gandrung Sewu.
Setelah vakum selama dua tahun karena Pandemi Covid-19, kali ini pagelaran Gandrung Sewu benar-benar mengobati dahaga para penggemarnya. Ribuan wisatawan nusantara dan mancanegara rela berdesakan dan berpanas-panasan demi bisa menyaksikan pementasan kolosal yang diikuti oleh 1.248 penari itu.
Pada Gandrung Sewu kali ini, juga dianugerahkan penghargaan khusus kepada dua sosok di balik penyelenggaraan Gandrung Sewu yang pertama kali dihelat pada 2012 itu. Kedua sosok tersebut adalah mendiang Budianto dan Sumitro Hadi. Mereka adalah inisiator dan koreografer pertama pertunjukan yang kini ditetapkan dalam agenda wisata nasional tersebut. (*)










