Banyuwangi, seblang.com – BPJS Kesehatan memperkuat upaya peningkatan derajat kesehatan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pelaksanaan Skrining Riwayat Kesehatan (SRK). Program ini menjadi langkah promotif dan preventif untuk membantu peserta mengenali risiko gangguan kesehatan sejak dini.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Banyuwangi, Titus Sri Hardianto, mengatakan skrining dilakukan agar peserta dapat mengetahui potensi penyakit sebelum muncul keluhan.
“Skrining riwayat kesehatan dapat dilakukan satu kali dalam setahun. Peserta cukup menjawab pertanyaan singkat yang memerlukan waktu sekitar lima hingga 10 menit, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari,” kata Titus, Kamis (15/1).
Pertanyaan dalam skrining meliputi riwayat kesehatan pribadi dan keluarga serta kondisi kesehatan terkini. Dari data tersebut, peserta akan memperoleh gambaran awal terkait kondisi kesehatannya sebagai dasar penanganan lebih lanjut.
Menurut Titus, skrining dapat diakses melalui Aplikasi Mobile JKN, layanan WhatsApp PANDAWA, dan laman resmi BPJS Kesehatan. Bagi peserta yang tidak memiliki ponsel pintar atau terkendala akses internet, skrining juga bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
Ia mengimbau peserta untuk tidak menunda skrining meskipun merasa sehat. Banyak penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi, kerap tidak menunjukkan gejala pada tahap awal.
“Karena itu, deteksi dini menjadi sangat penting. Petugas di fasilitas kesehatan juga berperan mengingatkan peserta untuk melakukan skrining, baik melalui layanan daring maupun saat kunjungan langsung,” ujar Titus.
Salah satu peserta JKN, Anisatul Hamidah (29), yang akrab disapa Nisa, mengaku skrining membantunya memahami kondisi kesehatan sejak awal. Ia melakukan skrining melalui Aplikasi Mobile JKN setelah mendapat informasi dari petugas Puskesmas.
“Prosesnya cepat dan tidak rumit. Hasilnya langsung keluar. Dari situ saya tahu bahwa saya berisiko mengalami tekanan darah tinggi, lalu diarahkan untuk pemeriksaan lanjutan dan mendapat edukasi dari dokter,” kata Nisa.
Menurut Nisa, program JKN membuatnya lebih peduli terhadap kesehatan, mulai dari memahami faktor risiko hingga lebih disiplin menerapkan pola hidup sehat.
Ia juga mengapresiasi kemudahan layanan digital BPJS Kesehatan. “Sekarang tidak perlu antre lama karena sudah ada fitur antrean online. Saat berobat pun cukup menunjukkan KTP tanpa membawa banyak dokumen,” ujarnya.










