Malang, seblang.com – Upaya meningkatkan kesadaran kesehatan di kalangan warga Nahdliyin terus digalakkan di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Klinik NU Madinah Pujon bersama Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) membangun kolaborasi berkelanjutan melalui program pelayanan kesehatan berbasis majelis yang terintegrasi dengan kegiatan keagamaan rutin.
Program tersebut menyasar jemaah Muslimat NU di tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Pujon dengan pendekatan humanis yang mudah diterima masyarakat. Selain pengajian rutin bulanan, setiap kegiatan juga disertai layanan pemeriksaan kesehatan dasar bagi para peserta, khususnya kelompok lanjut usia (lansia).
Staf Ahli Klinik NU Madinah Pujon, Ulamai Soikodin, menjelaskan bahwa kolaborasi ini berangkat dari ketentuan internal NU yang mewajibkan setiap MWC memiliki atau terhubung dengan lembaga kesehatan. Ketentuan tersebut menjadi dasar sinergi antara Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) dan Muslimat NU di tingkat kecamatan.
“Setiap pengajian rutin Muslimat NU selalu kami sertai pemeriksaan kesehatan sederhana, seperti pengecekan tekanan darah dan berat badan. Pemeriksaan lanjutan, seperti gula darah, hanya dilakukan pada momen tertentu,” ujar pria yang akrab disapa Udin saat ditemui di RS NU Madinah Pujon, Minggu (28/12/2025).
Menurutnya, kegiatan ini digelar secara konsisten setiap bulan dengan siklus sekitar 40 hari. Pesertanya berasal dari anggota Muslimat NU se-Kecamatan Pujon, dengan prioritas utama para lansia yang selama ini cenderung enggan memeriksakan kesehatannya ke fasilitas layanan formal.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan istighotsah oleh kelompok Muslimat dari masing-masing ranting, dilanjutkan pengajian serta layanan pemeriksaan kesehatan.
Usai kegiatan inti, peserta juga diajak mengikuti senam lansia ringan yang disesuaikan dengan kondisi fisik mereka. Pelaksanaan kegiatan umumnya dipusatkan di masjid setempat agar mudah dijangkau oleh jemaah.
“Dengan suasana kebersamaan dan pengajian, para lansia menjadi lebih nyaman dan terdorong untuk hadir sekaligus memeriksakan kesehatan dasar,” jelas Udin.
Pelaksanaan program dilakukan secara bergilir, baik dari sisi lokasi maupun tenaga kesehatan. Dalam setahun, kegiatan rutin ini berlangsung sekitar 10 kali pertemuan selama 10 bulan. Dari jumlah tersebut, empat pertemuan melibatkan tenaga atau pihak dari luar agar cakupan pelayanan kesehatan semakin merata.
Program pelayanan kesehatan berbasis majelis ini telah berjalan sekitar lima tahun. Pada awal pelaksanaannya, jumlah peserta masih terbatas, sekitar 100 orang. Seiring waktu, antusiasme jemaah terus meningkat berkat peran aktif ibu-ibu Muslimat NU sebagai penggerak utama kegiatan.
Udin menambahkan, program ini tidak terlepas dari dukungan dr. Taufik selaku pemilik fasilitas kesehatan pada masa awal pelaksanaan. “Saat itu, seluruh aktivitas pelayanan dilakukan secara mandiri di Klinik Madinah Pujon,” tutupnya.












