Banyuwangi, seblang.com – Ribuan warga Nahdlatul Ulama memadati kawasan depan Kantor PCNU Banyuwangi, Jumat (13/3). Mereka mengikuti agenda Silaturahmi Akbar dan Buka Puasa Bersama yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi.
Sekitar 1.500 kader Nahdliyin dari tingkat MWC, ranting hingga badan otonom NU hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka bahkan memadati hampir sepanjang Jalan Ahmad Yani.
Sejumlah tokoh daerah turut hadir dalam kegiatan itu. Di antaranya Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Ketua MUI Banyuwangi KH Muhaimin Asymuni, serta Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahya Negara.
Selain itu hadir pula sejumlah badan otonom NU seperti Pagar Nusa, GP Ansor, IPNU, IPPNU, IKAPMII serta unsur organisasi lainnya.

Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi KH Achmad Turmudzi mengatakan kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi.
Tahun ini, PCNU Banyuwangi mengangkat tema “Tandang Bareng Merajut Harmoni.”
Menurut Turmudzi, tema tersebut mencerminkan semangat kebersamaan warga Nahdliyin dalam menjaga harmoni sosial di Banyuwangi.
“Melalui semangat Tandang Bareng, kita ingin mengonsolidasikan seluruh potensi yang ada. PCNU Banyuwangi harus hadir sebagai perekat di tengah keberagaman, memastikan harmoni tetap terjaga baik di internal organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa soliditas organisasi menjadi kunci utama kekuatan Nahdlatul Ulama. “Jika struktur NU dari tingkat cabang hingga ranting sudah satu frekuensi dan harmonis, maka pengabdian kita kepada umat akan jauh lebih berdampak dan nyata,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut Turmudzi juga mengingatkan kembali pesan pendiri NU, Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari mengenai makna kebersamaan dalam Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, kebersamaan di NU harus bersifat mutlak, tulus dan dilandasi keikhlasan. “Kebersamaan di Nahdlatul Ulama adalah kebersamaan yang absolut. Kebersamaan yang tidak memiliki tendensi apa pun. Kebersamaan yang dilandasi keikhlasan dari hati,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa NU bukan tempat mencari popularitas ataupun kepentingan pribadi. Sebaliknya, NU adalah ruang pengabdian untuk mencari keberkahan dari para ulama dan para pendiri organisasi.
“Di Nahdlatul Ulama jangan mencari apa-apa. Kita berkhidmat untuk mencari barokah dari para muassis dan para alim ulama,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu Turmudzi juga mengingatkan soal integritas kepemimpinan di tubuh NU. Ia bahkan menyebut adanya semacam “aturan tidak tertulis” bagi pimpinan organisasi.
“Kalau sudah menjadi Ketua PCNU, jangan mencalonkan apa pun. Kalau ingin mencalonkan jabatan lain, jangan menjadi Ketua PCNU,” ujarnya.
Pesan tersebut disampaikan untuk menjaga marwah organisasi agar kepemimpinan NU tetap fokus pada pengabdian kepada umat. “Semakin tidak terkenal Ketua PCNU itu justru semakin bagus,” cetusnya.
Turmudzi juga mengingatkan pentingnya setiap tingkatan organisasi memahami tugas dan fungsi masing-masing. Mulai ranting, MWC hingga cabang memiliki peran yang berbeda dalam struktur organisasi sehingga konflik internal dapat dihindari.
“Kalau kita memahami tugas dan fungsi masing-masing, insyaallah tidak akan ada kegaduhan di tubuh Nahdlatul Ulama,” katanya.
Pertemuan tersebut juga menjadi momentum konsolidasi organisasi. Turmudzi menegaskan bahwa konsolidasi dari tingkat ranting hingga cabang akan terus dilakukan secara intensif.
Tujuannya agar program-program NU dapat berjalan efektif dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga Nahdliyin hingga tingkat paling bawah. “Bagaimana program-program kita bisa berjalan dan menyentuh sampai level paling bawah sehingga kehadiran Nahdlatul Ulama benar-benar dirasakan oleh warga Nahdliyin,” ujarnya.
Sementara itu Ketua Panitia H. Junaedi mengatakan kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.500 kader NU dari berbagai unsur organisasi.
Menurut pria yang akrab disapa Pak Jo tersebut, kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial Ramadan. Kegiatan ini juga menjadi ruang memperkuat sinergi lintas sektor di Banyuwangi.
“NU adalah rumah besar yang terbuka untuk berdialog dengan siapa saja demi kemaslahatan umat. Kehadiran Forkopimda, legislatif, lintas partai hingga organisasi kepemudaan menunjukkan bahwa semangat Tandang Bareng adalah energi untuk membangun Banyuwangi secara bersama-sama,” ujarnya.
Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Sementara itu Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menegaskan bahwa pemerintah daerah memandang NU sebagai mitra strategis dalam pembangunan masyarakat. Peran ulama dan pesantren dinilai sangat penting dalam menjaga nilai-nilai moral, toleransi dan tasamuh di tengah keberagaman masyarakat Banyuwangi.
Ia pun mengapresiasi tema yang diusung PCNU Banyuwangi. Menurutnya, semangat kebersamaan yang diangkat dalam tema tersebut selaras dengan arah pembangunan Banyuwangi yang mengedepankan kolaborasi.
“NU menjadi tempat dengan kebijaksanaan antara tradisi dan kemajuan zaman. Ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan bagi Banyuwangi,” tandasnya.











