Terlebih, hadirnya Kurikulum Merdeka telah memberi peluang bagi sekolah untuk memanfaatkan segala sumber daya, seperti potensi peserta didik, guru, maupun potensi daerah sekitarnya, dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Jadi, kurikulum merdeka menciptakan merdeka belajar bagi murid, sedangkan guru mendapatkan merdeka mengajar. “Namun, merdeka tidak dapat diasumsikan lain. Misalnya siswa boleh datang terlambat atau tidak mengikuti pelajaran. Merdeka adalah belajar sesuai dengan passion, tanpa tekanan,” jelas Maliki.
Tak hanya guru, orang tua juga menjadi bagian penting dalam mendidik karakter anak. Dalam Kurikulum Merdeka, banyak pelajaran yang harus dimulai dari rumah. “Jangan lagi orang tua memaksakan anak memilih program studi sesuai kemauan mereka, melainkan sesuai dengan minat anak. Ini harus diketahui juga oleh orang tua bahwa mendampingi anak milenial berbeda pada saat mereka masih sekolah. Jadi, orang tua juga harus menjadi coach bagi anaknya,” tambahnya.
Melalui kurikulum merdeka, peserta didik juga dapat belajar di luar minatnya, misalnya siswa Jurusan Tata Boga bisa mempelajari kecantikan. Kita tidak memaksakan anak harus menguasai semuanya, melainkan harus melihat potensi besarnya. Jadi, siswa akan melakukan sebuah proyek sesuai dengan apa yang ingin mereka kembangkan.
Besar harapan melalui kegiatan IGSP bisa mengubah mindset, baik guru maupun orang tua. Perubahan mindset ini harus dikelola dengan baik melalui komunikasi yang terus dikembangkan antarguru, misalnya melalui agen perubahan guru penggerak dan komite pembelajaran. “Agen-agen perubahan inilah yang nantinya akan belajar bersama dengan para guru hingga menghasilkan paradigma baru sesuai dengan Kurikulum Merdeka,” pungkasnya.////////










