Banyuwangi, seblang.com – Harapan hidup Ahronik (65), warga Desa Telemung, Banyuwangi, sempat berada di titik nadir. Ia pernah mengalami koma selama 13 hari akibat komplikasi gagal ginjal kronis yang mengharuskannya menjalani terapi cuci darah atau hemodialisis seumur hidup.
Perjalanan penyakit Ahronik bermula pada 2013. Saat itu, ia kerap merasa lemas, kehilangan nafsu makan, disertai muntah dan sesak napas. Keluhan tersebut semula dianggapnya sebagai gangguan ringan.
“Saya sempat minum obat dan minuman herbal, tapi tidak ada perubahan. Setelah periksa ke dokter, saya didiagnosis gagal ginjal,” ujar Ahronik saat ditemui di sela terapi hemodialisis, Selasa (27/1/2026).
Setelah divonis gagal ginjal kronis, Ahronik memilih menunda terapi cuci darah dan mencoba pengobatan alternatif. Namun, kondisi kesehatannya terus menurun. Pada 2019, dokter menyatakan penyakitnya telah memasuki stadium 5 dan mengharuskannya menjalani hemodialisis secara rutin.
Ketakutan terhadap biaya pengobatan menjadi alasan utama penolakannya. “Sekali kontrol ke dokter spesialis saja bisa habis sekitar satu juta rupiah. Apalagi kalau harus cuci darah seumur hidup,” katanya.
Menyadari tingginya beban biaya, Ahronik akhirnya mendaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 2019. Keputusan itu menjadi penopang utama saat kondisinya kembali memburuk pada 2021. Ia sempat tak sadarkan diri dan menjalani perawatan intensif hingga mengalami koma selama 13 hari.

Ahronik baru sadar setelah menjalani dua kali terapi cuci darah. “Alhamdulillah, seluruh biaya perawatan ditanggung BPJS Kesehatan. Sejak itu saya rutin cuci darah dua kali seminggu dan keluhan berkurang,” tuturnya.
Pengalaman tersebut mengubah pandangannya tentang pentingnya jaminan kesehatan. Menurutnya, iuran JKN yang dibayarkan tidak sebanding dengan biaya pengobatan yang harus ditanggung tanpa perlindungan.
“Saya pernah rawat inap tanpa jaminan, biayanya bisa sampai Rp5 juta. Satu kali cuci darah sekitar Rp1,3 juta,” ujarnya.
Ahronik berharap masyarakat tidak menunda menjadi peserta JKN. Ia menilai jaminan kesehatan merupakan penopang penting agar masyarakat tetap dapat mengakses layanan medis tanpa terbebani biaya besar.
“Selagi masih sehat, sebaiknya segera daftar JKN. Jangan menunggu sakit dulu seperti saya,” pesannya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan atas keberlangsungan Program JKN yang menurutnya mencerminkan semangat gotong royong dan telah membantunya bertahan hingga kini.////////










