Dalam penjelasannya, Saepuloh menerangkan, seleksi tersebut dilaksanakan dengan 3 tahap. Yang pertama adalah tes tulis. Tes tulis tersebut berkaitan dengan wawasan keaswajaan, kebangsaan dan sejarah NU. Tahap yang kedua ialah tes baca tulis Al-Qur’an, dan yang terakhir ialah wawancara yang berkaitan tentang komitmen calon mahasiswa terhadap Pergunu.
Dia juga menegaskan bahwa, salah satu syarat administrasi seleksi calon peserta beasiswa Ikhac yaitu memiliki memiliki surat rekomendasi dari PC Pergunu setempat agar antara pihak calon penerima beasiswa dan PC Pergunu setempat bisa saling berkomitmen dalam menumbuhkembangkan kader muda Pergunu.
“Ketika sudah dinyatakan lulus menerima beasiswa maka kewajiban kita untuk menjaga nama baik Pergunu, terutama Pergunu Jawa Barat. Dan mari membangun niat menuntut ilmu dari sekarang, bukan niat hal yang lain apalagi mencari jodoh. Dan mari kita persiapkan menjadi seseorang yang memiliki sikap toleransi dan pandai berteman dengan sesame,” terangnya.
Perlu diketahui, program beasiswa ini tidak hanya berfokus pada jenjang S1 saja melainkan juga diperuntukkan pada jenjang pendidikan S2 dan S3. Hal tersebut tentunya mengacu pada Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) yang didirikan oleh Kiai Asep di mana saat ini telah memiliki program studi dengan semua jenjang, mulai dari S1, S2, hingga S3.
Hebatnya, mahasiswa yang menuntut ilmu di sana juga tidak hanya dari mahasiswa lokal saja, akan tetapi juga mahasiswa internasional yang datang dari berbagai negara, seperti Mesir, Afghanistan, Thailand, Singapura, Vietnam, Malaysia, dan beberapa negara lainnya.
Sebagaimana diketahui, Kiai Asep memang telah lama dikenal sebagai ulama ahli pendidikan, terbukti dengan keberhasilannya membangun pondok pesantren dengan banyak santri di dalamnya. Hebatnya lagi, para santri di ponpes milik Kyai Asep banyak yang mendulang prestasi memukau hingga diterima di berbagai perguruan tinggi terbaik dalam dan luar negeri.










