Banyuwangi, seblang.com – Sakit gigi yang kerap dianggap sepele ternyata bisa berujung fatal. Hal itu diduga terjadi pada Nuryanto (46), warga Desa Curahjati, Kecamatan Purwoharjo, yang ditemukan meninggal dunia di sebuah rumah kosong di Dusun Badolan, Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo.
Saat ditemukan pada Jumat (10/4/2026), kondisi korban sudah mengenaskan. Tubuhnya telah membusuk dan diduga korban meninggal lebih dari tiga hari sebelum ditemukan.
Kapolsek Wongsorejo, AKP Eko Darmawan, memastikan tidak ada tanda kekerasan pada tubuh korban. Namun, dugaan kuat mengarah pada penyebab yang kerap diabaikan, yakni infeksi akibat sakit gigi.
“Korban memiliki riwayat sakit gigi cukup parah. Dari keterangan keluarga, yang bersangkutan sering mencabut giginya sendiri tanpa penanganan medis,” ujar Eko.
Kebiasaan tersebut diduga menjadi awal petaka. Infeksi yang tidak ditangani berkembang dan memicu pembengkakan pada wajah hingga pendarahan. Saat ditemukan, terdapat darah di sekitar tubuh korban yang mengindikasikan kondisi serius sebelum meninggal dunia.
Penemuan jenazah bermula dari kecurigaan seorang buruh tani, Budi Wantoro (35), yang mencium bau menyengat seperti bangkai dari arah rumah kosong di sekitar lokasi kerjanya.
Rasa penasaran membuat Budi bersama warga mendatangi rumah tersebut. Sekitar pukul 10.30 WIB, pintu dibuka bersama Ketua RT, Nyadi Prayitno (50). Di dalam kamar depan, korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Petugas Polsek Wongsorejo bersama tim medis Puskesmas Bajulmati yang tiba di lokasi langsung melakukan pemeriksaan. Hasil awal menguatkan dugaan bahwa kematian korban berkaitan dengan infeksi serius akibat sakit gigi yang tidak ditangani.
“Kondisi jenazah sudah membusuk, tubuh mengembang, dan banyak lalat,” tambah Eko.
Proses evakuasi berjalan tidak mudah. Petugas harus mengikat tubuh korban terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam kantong jenazah.
Korban diketahui tinggal seorang diri di rumah milik warga yang sedang berada di Kalimantan. Ia juga telah lama berpisah dari istri dan anaknya.
“Pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah. Mereka menolak autopsi dan memilih segera memakamkan korban di pemakaman Dusun Krajan, Desa Watukebo,” pungkasnya.///////










