“Pemerintah kita itu untuk memperluas layanan jantung seluruh Indonesia menyediakan sarana prasarana Kementerian Kesehatan alat-alat namanya cathlab untuk tempat pasang ring itu. Alatnya sudah ada tapi perlu sumber daya manusia,” tambah dr Renan.
Sebelumnya, pendidikan subspesialis kardiologi intervensi hanya tersedia di 13 rumah sakit yang kebanyakan dimiliki oleh pemerintah pusat atau universitas.
“Jadi ini RSUD pertama di bawah pemerintah kabupaten yang mempunyai kemampuan atau kapasitas untuk melakukan pendidikan kardiologi intervensi,” ungkap dr Renan.
Dengan persiapan yang sedang berlangsung, RSUD dr Iskak Tulungagung akan segera membuka pintunya untuk mahasiswa pendidikan fellowship di bidang kardiologi intervensi.
Dr Renan menekankan urgensi penanganan serangan jantung di Indonesia, yang harus dilakukan dalam waktu maksimal enam jam.
“Enam jam itu sudah enggak efektif lagi. Jadi target kita segera mungkin waktu di rumah sakit itu dalam waktu 90 menit sudah harus dibuka sumbatannya. Untuk itu harus ada dokter jantung yang punya keahlian itu,” pungkas dr Renan, menandaskan pentingnya pendidikan dan pelatihan bagi dokter spesialis jantung. (dip)









