Resik Lawon Tradisi Masyarakat Cungking Banyuwangi Sambut Ramadan

by -1607 Views
Wartawan: Teguh Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono

Uniknya disini, warga yang membawa kain kafan tersebut harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 1 Km menuju sungai tersebut dengan memikul kain kafan yang diletakkan ditempat khusus. Setelah dicuci, kain putih tersebut kembali dibawa ke Balai Tajuk untuk dibilas dan diperas.

Hal unik lainya, masyarakat setempat banyak yang berebut bekas air perasan dari kain kafan penutup makam Ki Buyut Cungking. Mereka mempercayai air perasan tersebut berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Kain mori atau lawon itu kemudian dijemur hingga ketinggian belasan meter yang berada di tengah jalan kampung, karena ukurannya yang panjang dan diupayakan tidak terkena tanah. “Ya karena kotor saja jika menyentuh tanah,” ujar Jam’i.

Setelah kering kemudian dilipat dan dirapikan. Kemudian, dipasang kembali sebagai kelambu di pondok persemayan Buyut Cungking.

Tradisi resik lawon itu pun akan diakhiri dengan berdoa kepada Tuhan di depan pintu makam Buyut Cungking secara bergantian, sekaligus nyekar sebagai bentuk permintaan maaf warga apabila ada kesalahan selama upacara resik lawon berlangsung.

“Tradisi ini juga untuk mengharapkan keberkahan dari sang Buyut agar Lingkungan Cungking khususnya, dijauhkan dari bala,”  pungkasnya.///////

iklan warung gazebo

iklan warung gazebo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *