“Kami mengadakan lomba MTQ ini untuk semakin menumbuhkan kecintaan masyarakat Mojokerto, kepada Al Qur’an , serta dalam rangka semarak hari jadi Kota Mojokerto ke 104,” kata Iwandoko.
Ika Puspitasari Walikota Mojokerto dalam penjelasannya, menyampaikan Kota Mojokerto memiliki aset yang berupa sumber daya manusia yang berlimpah, termasuk sumber daya manusia yang menjadi penghafal Alquran dan pengamal Alquran. Maka, sebagai bentuk apresiasinya telah memiliki aset-aset yang sangat luar biasa itu, Pemkot Mojokerto menyelenggarakan ajang MTQ ketujuh di Tahun 2022.
Sekaligus, ini merupakan media untuk mengasah sejauh mana pemahaman dan pengamalan yang dimiliki oleh anak-anak Kota Mojokerto, sebelum nanti mengikuti MTQ di level provinsi yang sedianya akan dilaksanakan di tahun 2023.
Kegiatan ini, bisa mengevaluasi sejauh mana aset yang di miliki kemampuannya, jika nanti akan dijadikan sebagai kafilah dari kota Mojokerto untuk bersaing dengan kafilah-kafilah dari berbagai daerah lain se Jawa Timur. Ning Ita sapaan Walikota Mojokerto ini, tidak menargetkan seperti apa nantinya, karena seberapapun prestasi yang dimiliki oleh anak-anak sebagai penjaga dan pengamal Alquran ini, sangat layak atau harus untuk diberikan apresiasi dan menjaga mereka. Sebab anak-anak ini juga menjadi generasi yang berkelanjutan, tidak hanya putus pada generasi ini, namun selanjutnya masih akan terus dibina, sehingga ada kader-kader aset-aset baru yang akan terus muncul dan selalu menjadi penjaga dan pengafal Alquran dari kota Mojokerto.
“Kita tidak harus mengejar sebuah prestasi dalam ajang perlombaan, terpenting bagaimana dalam membina dan menjaga para penghafal dan pengamal alqur’an, ini aset harus terus berkelanjutan, jangan sampai putus pada generasi ini, generasi selanjutnya harus terus ada sampai Yaumul Qiyamah. Penjaga dan pengaman Alquran ini harus tetap ada dari Kota Mojokerto,” terang Ning Ita.
Ning Ita berharap kepada anak-anak kafilah MTQ VII Kota Mojokerto Tahun 2022 ini, dipersilahkan menyampaikan dengan memberikan apa yang terbaik yang dimilikinya, jangan jadikan hadiah atau prestasi ini sebagai beban tapi apa yang ada pada diri para kafilah, upayakan ikhtiar kan untuk diberikan yang terbaik dari sisi kafilah, karena sesungguhnya prestasi atau hadiah itu sebatas bonus belakang. Tapi, keberadaan para kafilah sebagai penghafal pengamal penjaga Alquran ini sudah nilai positif yang luar biasa, tidak hanya bagi Kota Mojokerto, tetapi juga di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ////









