Dia menjelaskan, beras Koshihikari ini biasa digunakan di restoran besar karena rasanya enak dan pulen. Yang paling penting menurutnya beras ini sehat karena kadar gula rendah sekali. Saat ini umumnya beras memiliki rasa yang enak tapi kadar gula tinggi. Ada juga yang kadar gulanya rendah tapi tidak enak.
“Ini kedua-duanya, sudah enak tapi kadar gula rendah,” tegasnya.
Menurutnya, beras Koshihikari ini masuk Indonesia sejak 2014. Tapi tidak banyak dikembangkan karena kesulitan pada proses dari gabah menjadi berasnya. Menurutnya, tidak semua penggilingan mampu memproses karena memang harus mengubah sistem di penggilingan.
Dalam pengembangannya nanti, lanjutnya, akan diterapkan sistem kemitraan. Pihaknya menyediakan benih dan talangan pupuk. Nanti setelah panen dan sudah menjadi gabah kering dibeli dengan harga di atas rata-rata.
“Baru kami potongkan benih dan pupuk itu,” bebernya.
Satu hektar, menurutnya berpotensi menghasilkan 6-10 ton gabah. Kalau di Jepang hanya 4-5 ton per hektar. Ini karena lahan di indonesia sangat subur. Padinya juga tahan wereng. Sehingga hasil panen bisa maksimal.
“Pengalaman di daerah yang sudah ditanam, petani sangat antusias. Karena mereka panen bisa mendapatkan keuntungan lebih besar mereka akan senang,” ujarnya.///









