Kehadiran Polisi ditengah masyarakat tidak hanya sebatas Kamtibmas semata tetapi lebih dari itu harus bisa membawa manfaat lebih dan mengoptimalkan peran polisi selaku stabilisator maupun dinamisator.
Setiap kegiatan kepolisian yang tergelar baik patroli, sambang desa maupun yang lain, dari tingkat Polres hingga Polsek jajaran diupayakan terjalin komunikasi.
Sehingga masyarakat tidak merasa hanya sebagai objek tetapi juga subjek Kamtibmas.
“Outputnya adalah selain tumbuh kedekatan juga meningkatkan kontribusi masyarakat secara mandiri tentang arti penting Kamtibmas,”terang AKBP Gathut.
Dalam pelaksanaannya, Ngopim@s tidak harus dilakukan secara formal layaknya rapat-rapat diruangan tertutup tetapi dikemas dengan sederhana dan lebih kearah membuka ruang dialog person to person.
Sebagai gambaran, saat melakukan tugas patroli, petugas tidak hanya berkeliling atau stationer di spot-spot tertentu tetapi juga berbincang dengan masyarakat setempat.
Bisa di warung d iseputar lokasi sembari ngopi bareng, mengunjungi tokoh masyarakat atau bahkan berdialog dengan pedagang, tukang ojek dan lain-lain. Sasaran bisa bersifat individu atau kelompok/komunitas.
“Nah, dalam dialog yang terbangun tersebut, petugas bisa menyampaikan pesan-pesan Kamtibmas terkini, diskusi tentang berbagai hal serta mendengarkan keluhan, saran atau masukan dari Masyarakat,” jelas AKBP Gathut.
Namun yang lebih penting lagi kata AKBP Gathut, hal itu tentunya harus dibarengi tindak lanjut yang komprehensif sehingga apa yang telah dilakukan ini benar-benar membawa manfaat, tidak berhenti ditempat.
Dengan Ngopim@s ini, diharapkan Kamtibmas yang kondusif di Kabupaten Trenggalek senantiasa terjaga dengan baik.
“Harapannya soliditas antara Polri dengan masyarakat semakin meningkat selaras dengan kepedulian masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban terutama di lingkungan masing-masing,”pungkas AKBP Gathut. (*)










