Menurut Edhi, saat ini para perempuan mantan pekerja migran di 7 (Tujuh) komunitas desa dampingan telah menjadi pelaku Usaha Ultra Mikro. Beberapa peluang usaha telah mereka tekuni antara lain; ada yang membuat produk kue kering dalam bentuk produk kemasan, produk ketrampilan Tas (dari kulit dan kain), Tas Anyamandan ada yang membuka usaha warung makanan (kuliner).
“Perkembangan usaha yang sedang mereka tekuni, mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Biarpun pertumbuhanya masih rendah, tapi telah menunjukkan tren pertumbuhan dalam kontek usaha mikro,” imbuh tokoh asli Banyuwangi itu.
Produk tas anyaman yang dihasilkan, lanjut dia mampu melayani permintaan pasar Surabaya dan sekitarnya, Jawa Tengah, Jawa barat bahkan telah mampu melayani permintaan di Kalimantan.
Sedangkan sektor perdagangan produk, selain melayani pasar lokal Banyuwangi, merambah juga dalam pendagangan ke luar negeri. Perkembangan jangkauan pemasaran yang mereka kembangkan, menggunakan social media Instagram, WA dan Facebook.
Begitu juga yang terjadi dalam sektor usaha kuliner. Tidak hanya mengandalkan pemasaran konvensional, media online juga menjadi pilihan dalam memasarkan produk.
“Layanan cepat dengan mengantarkan pesanan ke pembeli. Tidak hanya menunggu datangnya pembeli. Guna memperkuat bidang usaha, mereka juga telah bersepakat mendirikan koperasi bersama yang diberi nama Koperasi “Perempuan Migran Kreatif”,” tambah ayah dua anak tersebut.////









