”Jadi memang harus ada ekspesi yang dikeluarkan oleh penari, sehingga membuat daya tarik para penonton. Tidak harus murung atau tegang terus,” candanya.
Memang tidak mudah melatih seorang pemula yang belum mengenal atau mengetahui teknik-teknik dasar menari. Terutama terhadap para Polwan. Dikarenakan para Polwan yang biasa gerak tegap, kini diharuskan melakukan gerak lentur.
”Meski sudah beberapakali diminta untuk bergerak lentur, namun bawaan Polwan yang selalu dalam sikap tegap membuat susah,” ungkapnya.
Hal itu, dirasakan oleh Briptu Cici Ika Luvita yang baru pertamakali terjun kedunia tari. Sehingga, harus merubah gerak tegapnya menjadi gerakan lentur untuk bisa membentuk gerak dasar tari.
”Memang cukup susah diawal latihan, semoga saja nantinya lama kelamaan bisa terbiasa,” katanya.
Berberda dengan Briptu Ela Sukma Cahyani yang memang memiliki dasar menari sejak kecil. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Ela memang sudah mengenal dunia seni tari.
”Memang sudah biasa, sebelum masuk ke Polwan memang sudah menari gandrung,” jelasnya.
Dipilihnya tarian gandrung oleh para Polwan Polresta Banyuwangi untuk ditampilkan dalam acara Hari Jadi Polwan ke-74 di Polda Jatim, ternyata untuk mengangkat seni kearifan lokal asli Bumi Blambangan. Icon Gandrung memang selalu menjadi ciri khas Kabupaten paling ujung pulau jawa.
”Semoga bisa membawa kearifan lokal Banyuwangi, menjadi kesan terbaik para personel Polri. Khususnya di jajaran Polda Jatim,” pungkasnya. (Humas Polresta Banyuwangi)












