Peringatan HPSN 2024 di Jember Soroti Soal Sampah APK Pasca-Pemilu

by -1169 Views
Wartawan: Fitri
Editor: Herry W. Sulaksono
Kepala UPT Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, RM. Masbut


Jember, seblang.com – Dinas Lingkungan Hidup bersama dengan Komunitas pecinta lingkungan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) Jember memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 21 Februari 2024, di TPA Pakusari.

Dalam peringatan kali, ada beberapa hal yang menjadi sorotan. Salah satunya yakni terkait sampah Alat Peraga Kampanye (APK) dari Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.


Langkah itu dilakukan untuk mendorong Pemilu 2024 yang ramah lingkungan. Namun demikian, sejauh ini sampah APK setelah pemilu tersebut dari kajian yang dilakukan dinilai menumpuk. Serta juga tidak jelas dimana dan bagaimana pengelolaannya.

Ketua World Cleanup Day Indonesia (WCDI) Jember, Parmuji.

Serta, hal tersebut tidak ada pembahasan bersama dengan lembaga terkait. Yakni KPU maupun Bawaslu Jember.

“Kalau kita membaca jumlah Caleg yang ada di Kabupaten Jember, APK dari kurang lebih 273 Caleg dengan 3 Capres. Berarti sampah dari APK itu bisa mencapai sekitar 2 ton lebih. Bahannya pun tidak mudah didaur ulang, karena dari campuran PVC dengan kertas dan plastik. Sehingga bahan itu pun juga susah terurai. Nah pertanyaannya, kemana sampah APK itu? Kita juga tidak tahu,” ucap Kepala UPT Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, RM Masbut, saat dikonfirmasi sejumlah wartawan usai gelaran HPSN, Rabu (21/2/2024).

Saat memasuki masa tenang dan tahapan pemungutan suara, lanjut Masbut, APK yang dicopoti tersebut sudah menjadi sampah.”Tentunya ini menjadi PR kita bersama,” ujarnya.

Namun demikian, kata Masbut, untuk pengelolaan sampah bekas APK ada teknologi yang bisa didaur ulang. Untuk kemudian bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat.

“Nah terkait pengelolaannya, mungkin bisa dari sampah APK itu dapat diubah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel), atau sebagai bahan bakar alternatif untuk pengganti batu bara. Atau juga bisa digunakan untuk orang-orang di desa untuk pertanian atau lamak (alas di lantai),” paparnya.

“Tapi kan untuk ukuran APK dalam bentuk banner itu kan variasi, nah yang kecil-kecil kan gak bisa dan tetap jadi sampah,” sambungnya.

Lebih lanjut Masbut menyampaikan, terkait teknologi pengelolaan sampah. TPA tempatnya bekerja ada alat yang dimaksud itu. Namun masih belum ada kajian lebih lanjut tentang alat untuk mengolah sampah menjadi RDF itu.

iklan warung gazebo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *