Perjalanan 24 tahun Jamilah membangun “kerajaan kue kacang” sungguh mengesankan. Berawal dari produksi terbatas yang dipasarkan sendiri, kini 12.000 bungkus kue meluncur dari dapurnya setiap hari. Dengan harga Rp 1.000 per bungkus, kue ini menjadi camilan terjangkau yang diminati banyak kalangan.
Sebelumnya, selain kue kacang dia sempat membuat berbagai kue lainnya seperti kue mlinejo dan kue wijen. “Dari kue kue lainnya ternyata yang paling laris kue kacang, baru saya mulai fokus tahun 2000 membuat kue kacang,” kata Jamilah.
Untuk pemasaran, awalnya Jamilah hanya menitipkan ke satu warung. Selanjutnya bertambah menjadi dua warung dan seterusnya sampai akhirnya sekarang ada 20 orang sales yang ikut membantu memasarkan kuenya.
“Kami juga melayani pesanan dari toko oleh-oleh dan reseller yang menjualnya kembali dengan merek masing-masing. Kue ini juga sampai luar kota seperti Surabaya, Madura, Bali,” ungkap Jamilah, menggambarkan luasnya jangkauan pemasaran.
Dengan 35 pekerja, mayoritas ibu-ibu setempat, usaha Jamilah bukan hanya menciptakan lapangan kerja, tapi juga memberdayakan ekonomi lokal. Lebih dari itu, inisiatifnya mempekerjakan pasien ODGJ menjadi contoh nyata bagaimana sebuah usaha bisa menjadi agen perubahan sosial.
Kue kacang Jamilah membuktikan bahwa kesuksesan bisnis dan kepedulian sosial bisa berjalan beriringan. Dari sebuah dapur di Banyuwangi, aroma perubahan menyebar, memberikan secercah harapan bagi mereka yang kerap terlupakan.










