Untuk waktu awal pementasan, ditarikan 6 penari yang disebutnya jejer enem, kemudian jejer papat, terus tari perang barong, dan ditutup tari perang celeng.
“Setahu saya ini pakemnya. Kita selalu pakai pekem ini saat pementasan. Kalau disela pementasan ada tarian lain, dan lagu – lagu itu masuk isen-isen atau selingan,” terangnya.
Sejak awal berdiri, jaranan ini sering mendapatkan job pementasan dari warga. Karena sukses mendirikan kesenian, jarana ini terus dikembangkan oleh Ponirin, selaku pimpinan kesenian yang juga warga setempat.
Di akhir wawancaranya Mbah Selamet berharap, kesenian Jaranan Buto tetap lestari dan diminati masyarakat. Untuk menjaga marwah seni jaranan ini pihaknya berpesan, pakem kesenian apapun harus tetap diterapkan, agar marwah seni budaya tetap terjaga.
“Pakem itu harus diterapkan, agar kelak generasi penerus dapat terus melestarikan seni budaya yang ada,” pungkas Mbah Selamet, menutup perbincangan wartawan.//////











