“Wah ramai, mereka datang dan pergi usai memainkan alat musiknya. Warga terhibur,” jelas Toni, pemuda desa setempat.
Menurutnya, patrol hadrah ini ramai di malam Minggu sejak awal Ramadhan. Pukul 01. 00 WIB, para grup hadrah mulai berdatangan, dan pergi setelah memainkan alat musiknya secara silih berganti. Pukul 02.20 WIB, lokasi sudah kembali sepi.
“Sangat ramai, ada sekitar 10 sampai 11 grup. Kami pemuda juga ikut mengamankan jalannya lalu lintas. Keadaan selalu aman dan kondusif,” urainya.
Sebagai warga asli Benculuk Banyuwangi, pihaknya sangat terhibur sekaligus salut ke para penabuh hadrah, karena rata – rata mereka masih berusia muda, memiliki skil yang layak untuk tampil. Tujuan mereka untuk menguri – uri dan mengembangkan seni budaya asli Banyuwangi.
“Jelas salut. Karena seni budaya di Banyuwangi harus tetap dilestarikan agar tidak punah,” ungkap Toni. //////










