Museum Blambangan Jadi Jujukan Wisata Edukasi Belajar Sejarah Banyuwangi

by -1466 Views
Wartawan: Teguh Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono

Banyuwangi, seblang.com – Museum Blambangan yang berada di dalam kawasan kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Banyuwangi menjadi jujukan wisata edukasi.

Tahun 2022 saja, tercatat 5.772 pengunjung. Mereka ini rata-rata merupakan rombongan anak-anak sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga Mahasiswa.

Wisatawan lokal maupun mancanegara pun juga turut berkunjung di museum yang didirikan pada 25 Desember 1977 yang saat itu diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Soenandar Prijosoedarmo di Pendopo Banyuwangi.

Seiring berjalan waktu kemudian Museum Blambangan dipindahkan ke Disbudpar Banyuwangi pada tahun 2004 hingga saat ini.

Museum Blambangan kebanggaan Masyarakat Banyuwangi ini mengoleksi 4.000 benda-benda peninggalan mulai zaman prasejarah, etnografi, religi, masa kolonial dan kontemporer. Semuanya tersimpan rapi di museum ini.

“Di sini terdapat kurang lebih 4.000 koleksi, mulai dari koleksi Pra-Sejarah, Hindu Budha, hingga modern,” kata Bayu Ari Wibowo Kurator dan Edukator Museum Blambangan, Jumat (10/03/2023).

Bayu juga menyatakan keunikan museum ini terletak pada benda-benda kuno yang syarat akan makna dan filosofi, seperti benda koleksi masteripiece yakni materai yang tertanam pada benda yang dinamakan Stupika. Materai ini merupakan benda kecil berbentuk bulat yang di tengahnya bertuliskan mantra dengan huruf jawa kuna (prenegari).

“Koleksi yang unik disini adalah stupika, tablet dan materai, umumnya ketiga benda itu digunakan untuk persembahan kepada sang Budha oleh umat Budha pada masa lalu, namun temuan di Banyuwangi selain untuk persembahan juga digunakan sebagai sarana bekal kubur,” jelasnya.

Bayu menambahkan bahwa ketiga benda tersebut berada pada abad 10-13 Masehi, yang ditemukan di situs Gumuk Klinting, Muncar pada tahun 1971.

“Nah sebenarnya ini bukti otentik bahwa tradisi Megalitikum penguburan dalam tanah itu masih diwarisi hingga kini. Sistem penguburan dalam tanah maupun dalam peti itu bukan milik agama tertentu, tetapi itu tradisi Megalitikum yang masih diwarisi sesudah kelima agama masuk ke Indonesia,” tandasnya.

iklan warung gazebo

iklan warung gazebo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *