“Tulisan ini selanjutnya dibaca ulang,kontemplasi perenungan parafrase dalam kalimat dan jadi diperindah, dibaca lagi, diadaptasi lagi, direnungkan ulang. Maka akan menghasilkan puisi yang indah dan luar biasa,” jelas K.H. D. Zawawi Imron.
Sang Penyair Clurit Emas mencontohkan pengalaman dirinya pada tahun 1964-1967 menulis sebuah puisi berjudul Desaku dan Ibu di Prejengan Rogojampi yang menuai penghargaan nasional dan internasional.
Ternyata pada tahun 2013, ketika ada terbitan buku K13 Bahasa Indonesia kelas X, puisi tersebut dimasukkan dalam buku teks pembelajaran tersebut. “Maka, menulislah,…menulislah dan terus menulis,” ujarnya.
Rangkaian Festival Sastra tersebut diawali dengan penampilan musikalisasi puisi “Tembang Kawah Ijen” karya Yeti Chotimah yang ditampilkan oleh siswi SMPN 3 Rogojampi.
Karya tersebbut menjadi bagian dari pembahasan oleh Zawawi pada bagaimana proses berlatih menulis puisi dan membaca dengan hati. Serangkaian pelatihan menulis puisi, dilanjut dengan penulisan cetpen tiga paragraf atau yang disebut pentigraf.
Penyair asal Batang-batang Sumenep Madura yang merupakan penyair Asia dengan segudang penghargaan, memberikan kejutan lukisan realis gambar dari wajah Kabid SMP.
“Surprise untuk saya, dan saya sangat merasa bahagia mendapatkan lukisan langsung dari sang maestro,” ujar Alfian sambil menunjukkan lukisan karya KH D. Zawawi Imron tersebut.
Dalam acara tersebut Kabid SMP Dr.Alfian yang didampingi Kasie Peningkatan Mutu SMP, Didik Eko Wahyudi. Hadir pula Ketua DKB Banyuwagi Hasan Basri bersama dengan Pembina Sanggar Merah Putih’45 dan Komunitas Tetesan Pena’45 Banyuwangi Bung Aguk Darsono./////










