Diskusi juga menyoroti bait tentang rezeki dan akhirat. Penyair berpesan agar manusia tidak perlu khawatir akan rezeki, melainkan lebih fokus pada bekal di akhirat, yang dijanjikan akan membawa kebaikan yang lebih besar. Hal ini menjadi pengingat bagi para hadirin bahwa nilai-nilai spiritual harus menjadi prioritas di atas urusan duniawi.
Pada bagian lain, para peserta juga membahas tentang konsep kasih sayang sebagai “pengajaran” (pangajherra) dan “pendidikan” (adidik na) untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Pesan ini menekankan bahwa kasih sayang tidak hanya sebatas perasaan, tetapi juga sebuah prinsip hidup yang mendidik manusia menjadi pribadi yang lebih baik.
Diskusi ditutup dengan membahas bait yang paling menyayat hati, yaitu tentang kebahagiaan yang tidak mengenal identitas atau perkenalan, melainkan hanya bisa dirasakan oleh hamba yang “sudah mengerti.” Bait ini menegaskan bahwa kebahagiaan sejati hanya datang dari pemahaman spiritual yang mendalam, bukan dari pengakuan atau hubungan duniawi.
Melalui diskusi ini, syair KHR Kholil As’ad bukan hanya sekadar karya sastra, tetapi juga sebuah pedoman spiritual yang relevan. Diskusi mengalir dengan tanya jawab yang interaktif, diiringi pembacaan syair yang menyentuh hati, menjadikan acara ini sarana yang efektif untuk memahami ajaran-ajaran luhur para ulama.










