Situbondo, seblang.com — Sebuah diskusi kajian rutin kembali digelar di Situbondo, kali ini membahas syair karya KHR Kholil As’ad Syamsul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Walisongo, Mimbaan. Diskusi yang dihadiri oleh para tokoh muda, santri, dan elemen masyarakat ini membedah makna mendalam dari syair berjudul “Kasih Sayang” yang dikenal penuh pesan spiritual dan sosial.
Diskusi yang dikemas secara ringan namun penuh makna ini menjadi agenda bulanan yang selalu dinantikan untuk umum. Turut hadir dalam acara tersebut Lora Al Ma’i Sufyan, Lora Ali Yafi Muhgni, Lora Nuris Zain Tibyan, Lora Ainul Yaqin, dan Ustad Abdurrahman sebagai narasumber. Mereka memimpin jalannya diskusi, mengurai kalimat demi kalimat dari syair yang ditulis dalam bahasa Madura tersebut, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta.
Syair “Kasih Sayang” ini membuka diskusi dengan bait-bait yang menegaskan bahwa kasih sayang dari Tuhan adalah karunia yang diterima semua hamba tanpa perlu diminta atau dicari. Para narasumber menjelaskan, ini adalah fondasi ajaran yang menggambarkan kemurahan Tuhan yang tidak terbatas.
Lebih lanjut, syair tersebut menggunakan metafora alam seperti “berkembang” (akembeng), “berbuah” (abue), “bercabang” (acabang), dan “beranting” (arancak). Metafora ini diartikan sebagai simbol keberkahan yang terus-menerus bertambah bagi mereka yang menyambung (menyambungkan diri) dengan jalan kebaikan.
“Semakin kita berupaya, maka keberkahan itu akan terus tumbuh, berbuah, dan bercabang,” jelas salah satu narasumber, Kamis, (4/9/2025).










