“Kampanye hitam sangat memprihatinkan dan berbahaya bagi demokrasi. Warga masyarakat menerima informasi menyesatkan dalam memilih,” ujar Astrid.
Dalam orasinya, mahasiswa menegaskan pentingnya keamanan dalam proses Pemilu. Kampanye hitam merugikan siapa pun yang terkena serangan tersebut, terutama bagi masyarakat awam yang menerima informasi tanpa kritis.
“Media sosial menjadi wadah penyebaran narasi kebencian. Peran media massa harus objektif dan netral dalam Pemilu 2024,” tambahnya.
Sebagai kaum intelektual, mahasiswa memiliki peran penting dalam melawan kampanye hitam. Mereka berkomitmen memerangi praktik tersebut melalui berbagai sarana, termasuk media sosial. (*)










