Pada periode September – November 2022 ini, imbuh Hasto, telah terjadi lebih dari 600 juta anomali siber. Fenomena ini bisa berpotensi menjadi serangan siber. “Hal ini perlu diantisipasi secara serius. Tidak hanya di pusat, tapi oleh seluruh komponen. Karena siapa saja bisa mendapat serangan siber ini,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Banyuwangi Budi Santoso mengatakan, CSIRT ini memiliki tugas untuk menerima, meninjau dan menanggapi laporan dan aktivitas insiden keamanan siber.
“Baik yang berupa hacking, phissing, malware maupun ransomware,” ungkap Budi.
Budi juga menambahkan, upaya sebagaimana tujuan dari terbentuknya CSIRT ini, telah sejak awal dilakukan oleh Banyuwangi. Namun, dengan kerjasama dengan BSSN ini, tata kerjanya akan lebih sistematis serta skalanya lebih luas. “Harapannya nanti bisa benar-benar terbentuk ekosistem digital yang aman,” pungkasnya. (*)









