Dari sisi layanan, kereta api yang paling banyak digunakan penumpang adalah KA Sri Tanjung dan KA Probowangi, yang memiliki relasi awal dan akhir perjalanan di Banyuwangi. Untuk kereta api jarak jauh komersial, KA Blambangan Ekspres dan KA Wijaya Kusuma menjadi pilihan utama selama libur panjang.
Tingginya arus penumpang juga didukung oleh jumlah stasiun aktif di Banyuwangi yang melayani naik dan turun penumpang, yakni sekitar enam stasiun. Selain itu, jumlah perjalanan kereta menuju Banyuwangi terus bertambah, termasuk pengoperasian KA Ijen Ekspres, perpanjangan relasi KA Blambangan Ekspres, KA Mutiara Timur reguler, serta KA Mutiara Timur tambahan yang beroperasi secara fakultatif selama masa Nataru.
“Total perjalanan kereta api selama Nataru mencapai 26 perjalanan, terdiri dari 24 perjalanan reguler dan dua perjalanan tambahan. Sekitar 22 perjalanan di antaranya melayani Banyuwangi,” kata Cahyo.
Ia menambahkan, sekitar 80 persen perjalanan kereta api di wilayah Daop 9 Jember memiliki tujuan awal atau akhir Banyuwangi, kecuali KA Ranggajati dan KA Pandalungan. Selama periode tersebut, pertumbuhan jumlah penumpang tercatat mencapai 11 persen, sementara pertumbuhan kapasitas tempat duduk berada di kisaran 5 hingga 7 persen.
Sejalan dengan peningkatan jumlah penumpang, KAI juga melakukan penataan fasilitas di Stasiun Ketapang dan Stasiun Banyuwangi Kota, serta melanjutkan penataan Stasiun Kalisetail yang hingga kini masih berlangsung.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai tingginya minat masyarakat menggunakan kereta api menuju Banyuwangi selama libur Nataru menunjukkan peran penting konektivitas transportasi dalam mendukung sektor pariwisata dan pergerakan ekonomi daerah.
“Akses transportasi yang semakin baik berperan penting dalam mendukung sektor pariwisata dan pergerakan ekonomi daerah,” ujar Ipuk./////////












