Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, dalam konsep revitalisasi sama sekali tidak mengubah bangunan asli. “Sama sekali tidak mengubah bangunan aslinya, karena mengusung konsep heritage dengan lansekap zaman Belanda dulu,” kata Ipuk.
Dalam desain revitalisasi tersebut nantinya terdapat gedung serbaguna, hotel, klinik, restoran dan galeri, kolam renang, dan fasilitas pendukung lainnya.
Ipuk mengatakan Inggrisan perlu direhabilitasi karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Banyak nilai historis yang bisa digali dari bangunan ini, dan pastinya akan sangat menarik untuk tahu sejarah di balik bangunan tersebut.
“Saat ini mulai banyak orang yang mulai tertarik dengan wisata sejarah. Mengetahui sejarah zaman dahulu ini bagi sebagian orang menjadi daya tarik wisata tersendiri, seperti di Eropa. Inggrisan nantinya dikembangkan jadi wisata sejarah,” kata Ipuk.
Selain menjadi Kantor Dagang Inggris, Gedung Ingrisan juga menyimpan jejak sejarah panjang dengan Kota Broome, Australia Barat. Berdasarkan penelitian Dr. Thor Kerr dari Curtin University Perth Australia dan Irfan Wahyudi, PhD dari Universitas Airlangga, kedua kota tersebut pernah terkoneksi pada awal abad 18 dalam satu jalur kabel telegram bawah laut yang dibangun Inggris mulai dari Eropa hingga Australia.
Kabel tersebut ditarik dengan kapal selama 10 hari, dan kantor operatornya ada di Gedung Inggrisan. Bangunan tersebut memiliki kesamaan arsitektur dengan kantor gedung yang menjadi kantor operator di Broome dulu.
Ditambahkan Sekda Banyuwangi, Mujiono, untuk penghuni yang tinggal di Gedung Inggrisan, sudah disiapkan rumah pengganti di Kelurahan Sukowidi. “Sudah disiapkan rumah. Sebagian penghuni juga telah pindah ke sana,” kata Mujiono.////












