Menurut dia, sosmed bisa menjadi kekuatan bahkan juga kontrol sosial agar aspirasi dari para mahasiswa itu didengar dan mendapat dukungan oleh masyarakat secara luas.
“Teman-teman mahasiswa sudah harus berpikir ke sana. Jika media sosial yang dimiliki followernya banyak, lalu kemudian viral, itu bisa menjadi kekuatan tersendiri,” pungkasnya.
Terpisah Rektor Untag Banyuwangi Andang Subaharianto menuturkan, literasi digital bagi anak didiknya itu diharapkan bisa memberikan kontribusi bagi penguatan kebangsaan serta nasionalisme, melalui konten positif yang disebar lewat medsos.
“Oleh karena itu peningkatan penggunaan teknologi ini, perlu diimbangi dengan kapasitas literasi digital yang mumpuni, agar mahasiswa kami dapat memanfaatkan teknologi digital dengan produktif, bijak, dan tepat guna,” ujarnya.
Andang menambahkan, mahasiswa tidak hanya dituntut bagaimana memahami UU ITE agar tidak menyalahi aturan dalam menggunakan teknologi informasi digital. Namun diluar itu, mereka butuh pembekalan untuk membuat konten yang sehat.
“Kita menginginkan anak-anak mampu menjadi agen untuk membuat konten yang sehat, produktif, serta bisa mendorong masyarakat pengguna media sosial ini, makin cerdas,” ucapnya.
Andang yakin, jika ke depan para mahasiswa sudah konsisten menciptakan produk positif di medsos, maka dunia digital akan memberikan kontribusi besar dalam membawa bangsa Indonesia makin produktif.
“Tentu produk dari literasi digital nanti adalah generasi yang smart dalam rangka memandang masa depan bangsa ini,” pungkasnya.////











