Dimana ada perbedaan besaran anggaran yang diterima antara cabor yang berprestasi dengan cabor yang prestasinya minim. Sehingga memacu semua cabor berlomba untuk meningkatkan prestasi atletnya.
“Ternyata dengan anggaran besar tetapi dengan sistem pengelolaan yang kurang bagus tidak memungkinkan untuk berprestasi. Kami mengalokasikan dana untuk KONI sebesar Rp. 8 Milyar. Karena DPRD Jembrana ingin anak-anak mendapatkan pembinaan dan berprestasi sehingga menambah anggaran Rp. 2,6 Milyar sehingga total anggaran Rp. 10,6 Milyar,” tambahnya.
Pola pembagian anggaran yang didasarkan bukan pada hubungan kedekatan antara cabor dengan pengurus KONI tersebut, menurutnya patut ditiru untuk diterapkan di Kabupaten Jembrana.
Sementara itu Ketua Bidang Anggaran KONI Banyuwangi, KGS Abd. Sakur menyatakan, meski dinilai bagus oleh kabupaten/kota lain, namun pihaknya terus melakukan penyempurnaan dan mencari formula pembagian anggaran yang lebih sempurna, sehingga manfaatnya bagi atlet semakin maksimal.
“Dimana ada item-item yang harus dipatuhi dan ditaati oleh cabor-cabor sehingga mampu memunculkan atlet-atlet yang berprestasi,” jelas Sakur.
Selain itu kata dia, KONI juga terus melakukan komunikasi, koordinasi dan bersinergi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Banyuwangi dalam menerapkan penggunaan sistem aplikasi Sistem Informasi Keolahragaan (Siraga).
Dengan aplikasi tersebut, semua pihak bisa mengakses seluruh informasi prestasi, data klub olahraga dan pemain serta program kegiatan cabor sehingga lebih profesional, transparan dan akuntabel.
Untuk diketahui, KONI Kabupaten Jembrana Bali, mendapatkan kucuran anggaran sebasar Rp. 10,6 Milyar dari pemerintah daerah setempat. Sedangkan KONI Banyuwangi mendapatkan alokasi dana sebesar Rp. 4 Milyar.////










