Sementara itu, Kalaksa BPBD Kota Malang, Prayitno kepada awak media di lokasi menerangkan jika untuk penanganan banjir pihaknya sudah memiliki peta rawan resiko bencana.
“Kami mitigasi, jadi ini merupakan area rawan bencana yang mungkin harus mendapat perhatian lebih dari yang lain. Karena ini pertama kali di titik ini sampai 110 rumah sampai 390 orang yang menjadi korban air terendam,” terang Prayitno.
Berdasarkan perkirakan BMKG hingga mei 2025 hujan masih akan terus terjadi dan gejala apapun harus menjadi fokus perhatian pemerintah Kota Malang.
“Jadi nanti kami lapor kepada pimpinan bahwa area sini memang titik terendah dari yang terdekat dengan Sungai Amprong perlu perhatian khusus. Keperluan apapun yang disampaikan masyarakat sini mungkin akan kami dahulukan.” bebernya.
Selain itu pihak BPBD juga sudah memberikan masukan terkait tumpukan sampah yang menghalangi aliran sungai Amprong di Lesanpuro Gang 12 yang diperkirakan lebih dari 10 truk jika segera terurai debit air bisa lancar kembali.
Ketua BPBD Kota Malang ini mengimbau khususnya warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai harus menyiapkan evakuasi, menyiapkan dan mengamankan dokumen serta peralatan elektronik terlebih mengantisipasi kerawanan semasa musim hujan.
“Kemudian juga mulai memetakan titik kumpul dan evakuasi serta mengungsi,” tandas Prayitno.
Saat meninjau banjir yang melanda Kecamatan Kedungkandang, Ketua DPRD Kota Malang Amithya di dampingi Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Prayitno dan Ketua GWN Lili Ulifah.///////











