Banyuwangi, seblang.com – Di Desa Kemiren, budaya bukan sekadar cerita lama yang tersimpan dalam ingatan. Ia adalah kehidupan sehari-hari. Setiap sudut desa seakan berbicara tentang sejarah panjang masyarakat Osing yang memilih berdamai dengan zaman tanpa pernah melepas akar asal-usulnya.
Menjelang sore, jalan utama desa mulai dipenuhi tawa anak-anak yang berlarian sambil mempraktikkan gerakan tari Gandrung yang mereka pelajari dari sanggar setempat. Di teras rumah, para perempuan menjemur daun pisang untuk persiapan memasak Pecel Pitik pada hari Minggu. Tak ada yang dibuat-buat. Semua mengalir begitu alami, seolah waktu di Kemiren berjalan sedikit lebih pelan.
Keramahan warga adalah hal pertama yang dirasakan siapa pun yang datang. Konsep suguh, gupuh, lungguh sudah menjadi nafas yang mengalir di antara penduduknya. Suguhan kopi selalu tersedia, gupuh terlihat dari cara mereka menghampiri tamu, sedangkan lungguh diwujudkan dalam tempat duduk yang disiapkan dengan penuh hormat. “Begitulah kami melayani tamu. Dari hati,” ucap Suhaimi, Ketua Adat Osing, sambil mempersilakan tamu mencicipi kopi hitam racikan khas Kemiren.
Setiap tahun, filosofi itu tampak paling nyata dalam Festival Ngopi Sewu. Pada hari itu, desa berubah menjadi bentang panjang cangkir-cangkir kopi yang tersusun rapi di sepanjang jalan. Warga, tua dan muda, turun tangan. Tidak ada panggung megah, tidak ada batas antara penyelenggara dan penonton. Semua menyatu dalam suasana kekeluargaan. Para pengunjung duduk di depan rumah warga, bercengkerama, merasakan hangatnya penerimaan yang tulus.
Di balik tradisi yang mengakar ini, Kemiren kini mengukir prestasi internasional. Pada 17 Oktober 2025, desa ini ditetapkan sebagai bagian dari Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia – The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 oleh UN Tourism dalam ajang internasional di Huzhou, China. Penghargaan itu bukan sekadar gelar; ia adalah pengakuan atas upaya warga menjaga nilai-nilai budaya sambil membuka ruang bagi wisatawan dari berbagai penjuru.










