Dalam kunjungan ini, Kemenlu menggandeng mitra global seperti Epicenter Stockholm dari Swedia, Opus Solution dari Hongkong, ASEAN SME Academy, BNI Ventures, dan Pijar Foundation. Para pelaku start-up lokal, termasuk 30 alumni Jagoan Banyuwangi, mendapat kesempatan berinteraksi langsung dengan mereka dalam sesi lokakarya dan berbagi praktik bisnis digital.
Selain dari sektor kreatif, Kemenlu juga menghadirkan lembaga internasional di bidang pangan dan pembangunan, seperti FAO, IRRI, JICA, GIZ, dan Kedutaan Besar Korea Selatan. Kolaborasi lintas lembaga ini diharapkan membuka peluang kerja sama nyata, terutama dalam penguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, dan energi berkelanjutan.
“Kami ingin membantu Banyuwangi naik kelas lewat koneksi global. Dengan jaringan mitra internasional yang kami miliki, kami siap mempertemukan pihak-pihak yang berpotensi bekerja sama,” ungkap Edwin.
Bupati Ipuk menyampaikan apresiasi atas inisiatif Kemenlu yang membawa Banyuwangi ke panggung kerja sama internasional. Ia menilai, langkah ini menjadi peluang besar untuk memperkuat kapasitas pelaku industri kreatif lokal.
“Terima kasih kepada Kemenlu yang membuka akses global bagi Banyuwangi. Kami ingin para pelaku usaha di daerah ini belajar langsung dari mitra internasional dalam hal inovasi, literasi keuangan, dan pemanfaatan teknologi digital,” kata Ipuk.//////











