Sementara itu, General Manager ASDP Ketapang, Yannes Kurniawan, menyebut akar persoalan ada pada pembatasan kapal untuk truk bertonase tinggi pasca-tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya.
“Awalnya hanya dua kapal LCM yang beroperasi. Kini sudah ada tujuh kapal, meski idealnya sembilan,” jelas Yannes.
Dalam forum tersebut, disepakati sejumlah strategi darurat yakni Diversi jalur penyeberangan, di mana Pelabuhan Jangkar Situbondo yang biasa melayani Lombok, disarankan juga membuka rute ke Gilimanuk, Bali. Selain itu, pembatasan tonase truk, di mana operator logistik disarankan menggunakan kendaraan di bawah 35 ton agar dapat segera diseberangkan.
“Kami sarankan untuk sementara agar lancar, pihak logistik menggunakan truk di bawah 35 ton,” ujar Ketua INFA, Rio Polii.
Ketua Gapasdap Banyuwangi, Mastiga Sofyan, juga mendorong agar truk sumbu tiga dengan beban di bawah 35 ton bisa masuk ke Dermaga MB 1 hingga 4. “Banyak truk meski jenis sumbu tiga, namun muatannya di bawah 35 ton. Jadi bisa memaksimalkan dermaga MB 1 hingga 4,” katanya.
Dukungan juga datang dari Kepala KSOP Tanjung Wangi, Purgana, yang meminta para pemilik kapal segera mengoperasikan armadanya yang selesai perawatan. “Kami minta agar kapal yang telah dilakukan perawatan untuk segera beroperasi lagi. Untuk saat ini jangan berpikiran ke profit, namun lebih pada kelancaran,” tegasnya.











