Sementara itu, nara sumber lain, Sabrang Mowo Damar Panuluh, inisiator aplikasi media sosial, Symbolic.id, mengatakan, tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan media sosial didesain untuk mencari profit, bukan tertuju pada penggalian nilai-nilai (values).
“Dunia informasi bergerak dengan cepat dan media sosial menjadikan komunikasi menjadi wadah yang sangat luas. Untuk itu perlu social engineering yang tepat yang dibangun dengan panduan value local wisdom masyarakat kita. Kita punya gotong-royong dan sangat in line dengan falsafah Islam fastabiqul khairat,” kata Sabrang.
Sebagai social engeneering, kata Sabrang, tentu pemerintah hadir dan melibatkan institusi sosial seperti universitas, ormas, dan sebagainya. Diperlukan kolaborasi gotong royong dana dari para pelaku usaha melalui CSR, sponsorship, beasiswa, dan kalangan filantropi.
Diperlukan peran negara untuk menguatkan kembali nilai gotong-royong dengan pengembangan investasi sosial yakni tenaga, dana, dan ilmu. “Penguatan gotong-royong dalam struktur sosial melalui komunitas dalam hal ini di media sosial akan menghasilkan mental model. Adanya tanggung jawab komunal tentang pentingnya kerukunan, kebersamaan yang hadir dari pola-pola sosial-budaya yang terjadi berulang,” urai Sabrang.
Harus diakui, imbuh Sabrang, struktur sosial dalam media sosial ditemui dengan hadirnya distribusi kepercayaan dari jumlah follower, like, dan dominasi nilai popularitas. “Oleh karenanya terbangun mental model perlombaan popularitas, eksistensi lebih penting daripada fungsi,” tuturnya. Seraya menjelaskan bahwa Symbolic.id menghasilkan pola berulang berupa pertukaran ilmu, trending, dan problem solving.//












