Penjual sempat menyebut dirinya berasal dari lembaga hukum dan mengaku bahwa kakaknya adalah Kapolsek. Ia juga bersumpah tidak sedang menipu dan memohon agar AG percaya. Namun, saat AG tiba di Jajag, Gambiran, Banyuwangi, lokasi yang dijanjikan untuk bertemu, nomor telepon pelaku sudah tidak bisa dihubungi.
“Sampai Kalibaru saya coba hubungi, tapi sudah nggak aktif. Bahkan di lokasi pertemuan juga tidak saya jumpai mobil yang ditawarkan tersebut. Di situ saya langsung sadar kalau ini penipuan,” tutur AG.
Meski tidak kehilangan uang, AG tetap mengalami kerugian. Ia mengaku telah mengeluarkan ongkos perjalanan hingga Rp300 ribu lebih karena harus berganti-ganti bus dari Surabaya ke Jember dan kemudian ke Banyuwangi. Ia bahkan beberapa kali diminta membayar ulang karena dilempar-lempar antar bus.
“Naik bus dari Surabaya ke Banyuwangi bisa sampai tiga ratus ribu karena harus turun-naik dan bayar lagi. Belum lagi capeknya,” keluhnya.
AG mengaku bersyukur karena masih memiliki teman di Banyuwangi yang bersedia menampungnya untuk bermalam. Setelah sempat beristirahat, ia memutuskan langsung pulang ke Madiun keesokan pagi harinya menggunakan bus menuju Surabaya.
“Mau naik kereta api Sri Tanjung, tiketnya sudah habis. Ya terpaksa naik bus lagi, mudah-mudahan tidak dioper-oper lagi,” pungkasnya.











