Deddy menjelaskan, pelatihan batik cap dilakukan dengan bahan pewarna alami. Para peserta pelatihan dituntut untuk kreatif agar bisa menghasilkan produk yang berbeda dengan yang lain.
Bukan hanya motif khas Banyuwangi yang telah melegenda, Deddy juga mengenalkan pembuatan motif-motif baru dalam pelatihan itu.
Salah satunya, ia juga mengajarkan pembuatan batik cap motif Geopark. Motif itu Deddy buat dalam beberapa model. Lima di antaranya telah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.
“Kami juga membuatkan satu motif baru untuk para peserta pelatihan. Yaitu motif Kembang Andong. Motif ini dipilih karena pelatihan ini diadakan di Dusun Andong, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah,” kata Deddy.
Dalam pelatihan itu, Deddy mengajarkan proses pembuatan batik mulai dari penyiapan kain, pengecapan, hingga kain siap dipakai untuk bahan busana.
Narasumber lainnya, Noval, menjelaskan soal proses pemasaran memanfaatkan media sosial kepada para peserta pelatihan.
“Dengan menggunakan media sosial, pemasaran akan cocok menyasar kalangan milenial,” tuturnya.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi Endang Sulistyani mengatakan, pelatihan tersebut bisa membuka lapangan pekerjaan baru bagi para perempuan di Banyuwangi.
“Bisa berdampak pada kesejahteraan perempuan adat,” katanya.
Selain itu, pelatihan tersebut juga akan menjaga batik sebagai warisan leluhur.










