Ipuk menambahkan, ajang ini juga menjadi sarana merajut harmoni. Dalam setiap pelaksanaan, para pelajar dari berbagai sekolah dan kecamatan akan saling bertemu dan berkolaborasi menyajikan suguhan yang atraktif.
“Kalau biasanya mereka sibuk sendiri-sendiri dengan gadgednya, di sini secara tidak langsung mereka akan belajar bersinergi, bekerja sama,” kata Ipuk.
Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata, MY Bramuda menjelaskan bahwa Banyuwangi Festival tahun ini dikemas dengan konsep berbeda. Event yang tertera dalam kalender Banyuwangi Festival berisi serangkaian kegiatan.
“Misalnya Festival Budaya Blambangan, terdiri dari berbagai atraksi seni. Seperti Petik Laut Muncar, Petik Laut Lampon. Banyuwangi Traditional Ritual yang terdiri dari pertunjukan seni Seblang, Barong Ider Bumi, dan lainnya,” kata Bramuda.
“Begitu pun dengan Banyuwangi Music Festival, ini adalah pekan musik di Banyuwangi. Mulai dari Festival Gendhing Osing hingga Festival Band Pelajar,” tutp Bramuda.
Dengan konsep yang berbeda ini, lanjut Bramuda, diharapkan akan berdampak pada lama masa tinggal para wisatawan. Yang tentunya akan berimbas para pelaku UMKM juga.
“Harapannya jika pelaksanaan festival harinya semakin panjang, maka UMKM juga akan terdampak. Karena di setiap event kami selalu melibatkan UMKM dalam pelaksanaannya sehingga penjualan UMKM akan turut meningkat,” kata Bramuda. (*)












