Pandangan tersebut pun diperkuat dengan fakta seperti misalnya, dari 39 kapolres di Jawa Timur saat ini, hanya ada satu perempuan yang mendapatkan jabatan tersebut.
Walau begitu, Herlina memberikan contoh agar pemimpin perempuan di suatu institusi tetap menyajikan peranan yang optimal dan mampu untuk terus bertarung.
Salah satunya dengan menjadikan fungsi preemtif, preventif, dan represif di dalam institusi Polri sebagai sebuah tanggung jawab.
“Seorang pemimpin sebaiknya tidak menganggap ketiga fungsi tersebut menjadi opsi bagi perempuan dalam institusi kepolisian. Namun sebagai pemimpin, ketiga fungsi itu harus dianggap sebagai tanggung jawab, bukan pilihan,” tegasnya.
Terakhir, dalam presentasinya Herlina mengutip pesan motivasi dari politisi sekaligus aktivitis Amerika Serikat, Eleanor Rosevelt, yang mengatakan the choice we make are ultimately our responsibility (pilihan yang kita buat pada akhirnya adalah tanggung jawab kita).
“Pilihan yang kita ambil dalam hidup merupakan tanggung jawab kita. Sama halnya dalam menjadi pemimpin, itu merupakan sebuah pilihan. Maka dari itu, penting untuk melakukan yang terbaik dari setiap pilihan hidup yang kita ambil,” pungkas mantan Kasatbinmas Polrestabes Surabaya ini.
Dalam kegiatan seminar internasional tersebut turut dihadiri oleh Konsul Jenderal Australia Fiona Hoggart, Captain Patrol Boat Melanie Verho, Kolonel Dewi, anggota polwan Polres Pelabuhan Tanjung Perak, anggota kowal Lantamal V Surabaya, perwakilan perempuan Basarnas, dan perwakilan dari Lapas Surabaya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan resepsi HMAS ANZAC Indo-Pasific Endeavour 2023 yang dihadiri oleh perwakilan Polda Jatim, Polrestabes Surabaya, Polres Tanjung Perak, Koarmada II Surabaya, Kodiklatal Surabaya, Polairud Polda Jatim, Syahbandar Surabaya, Bea Cukai Surabaya, Imigrasi Surabaya, dan perwakilan dari Pemerintah Kota Surabaya. (*)












