Ia menegaskan, batik Banyuwangi kini menjadi produk unggulan daerah dengan pemasaran hingga mancanegara dan diminati wisatawan dari berbagai daerah. Perkembangan industri batik juga meningkat signifikan. “Dulu tahun 2010 pengrajin batik hanya ada lima. Setelah ada festival batik, kini sudah berkembang dan jumlahnya mencapai sekitar 60 pengrajin,” jelas Nanin.
Kepala Desa Tampo, Hasyim Ahsari, menjelaskan batik di desanya tidak hanya diproduksi untuk kebutuhan industri, tetapi sudah berkembang menjadi wisata edukatif. Wisatawan dan pelajar yang datang dapat melihat proses pembuatan batik sekaligus belajar mencanting secara langsung.
“Iya, batik di Desa Tampo sudah menjadi wisata batik. Tampo Fair digelar selama empat hari. Selain menampilkan produk unggulan UMKM, juga akan dimeriahkan oleh seni dan budaya lokal,” kata Hasyim.










