“Bahkan, inovasi Cek Pubertas ini sudah terintegrasi dengan platform digital Smart Kampung sehingga petani Banyuwangi dapat mengakses jatah pupuk subsidinya melalui smartphonenya,” ujarnya.
Dengan adanya Cek Pubertas, lanjut Ilham, mereka juga memiliki akses ke petani percontohan yang sukses menurunkan ketergantungan pada pupuk subsidi hingga 50 persen dengan menggunakan pupuk organik alternatif.
“Seperti sebut saja Suryono, petani asal Kecamatan Srono yang pada kesempatan tersebut berbagi kisah bahwa ia dapat menjaga kuantitas panen padinya diangka 8-9 ton tiap hektar padahal ia hanya menggunakan pupuk subsidi sebanyak 40%,” jelasnya.
Ilham mengungkapkan, sampai dengan Juli 2023, pupuk subsidi jenis urea dari total alokasi 1 tahun 46.506 ton, sudah tersalur 30.566,95 ton atau terealisasi 65,73 %. Sedangkan jenis pupuk NPK dari total alokasi 29.933 ton, sudah tersalurkan 18.204,18 atau sejumlah 60,82%.
Oleh sebab itu, Dispertan Banyuwangi bersama tim KP3 (Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida) akan terus meningkatkan pengawasan penyaluran pupuk subsidi agar tepat sasaran di setiap kecamatan.
“ini adalah bentuk mengoptimalkan alokasi pupuk subsidi yang ada sehingga tepat sasaran, efisien dan efektif digunakan petani penerima,” ujarnya.
Bukan hanya itu, Dispertan berjanji tak akan henti mengupayakan meminta tambahan alokasi pupuk subsidi Banyuwangi kepada Kementerian Pertanian.
“Pada awal Agustus 2023 ini kami sudah mengusulkan agar dikucurkan tambahan alokasi pupuk subsidi, yaitu jenis urea ditambah 3.063 ton dan jenis NPK 36.776 ton. Terutama alokasi pupuk dalam menghadapi musim hujan Desember nanti karna pada saat hujan luas tanam petani pasti meningkat drastis,” tandasnya./////









