“Sampah organik yang telah dipilah ini kita buat untuk pakan maggot, kompos, dan pupuk cair. Melalui festival ini, kami ingin mengajak warga khususnya warga Bakungan untuk lebih peduli tentang masalah pengelolaan sampah,” ujarnya.
Bakungan juga mengembangkan potensi teknologi lokal melalui aplikasi ABank Sayang (Aplikasi Bank Sampah Masyarakat Bakungan). Aplikasi ini mencatat seluruh aktivitas bank sampah, mulai dari penimbangan, pencatatan saldo, hingga konversi menjadi poin yang dapat ditukar hadiah.
“Warga cukup memilah sampah organik, anorganik, dan residu di rumah, lalu membawanya ke Omah Olah Sampah untuk ditimbang dan dicatat oleh petugas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM),” jelas Agus.
Ketua Bank Sampah Kelurahan Bakungan, Danar Fataros Nurcahyani, mengatakan pihaknya akan terus mendorong pengembangan produk daur ulang. Rencana ke depan termasuk memanfaatkan botol plastik bekas untuk dijadikan perabot kreatif seperti sofa.
“Kita masih mencoba, ada beberapa ide yang akan segera kita kerjakan. Kita sedang melengkapi bahan-bahan yang diperlukan,” ungkap Danar.
Selama sepekan, festival ini menghadirkan berbagai kegiatan untuk memperkuat literasi lingkungan warga, seperti edukasi dasar pengelolaan sampah, sekolah komunitas ramah lingkungan, serta lomba foto dan video bertema Teknologi & Inovasi Hijau.











