Ipuk juga menyebut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang mencatat sekitar 30 persen anak mengalami kecanduan gim dan judi online. Menurutnya, permainan tradisional menjadi solusi edukatif yang menyenangkan untuk menyeimbangkan perkembangan anak di era digital.
“Kita ingin anak-anak kita tidak hanya mengenal budaya digital, tapi juga cinta budaya lokal. Festival ini menjadi ruang mereka belajar sportivitas, jujur, berempati, hingga leadership,” jelasnya.
Ipuk menambahkan bahwa permainan tradisional mampu mendorong anak lebih aktif bergerak, yang sangat baik untuk kesehatan. Ia berharap kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti di festival, tetapi juga diterapkan di sekolah dan lingkungan rumah.
“Semua ini butuh dukungan terutama dari orang tua. Orang tua juga harus mengajarkan kepada anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari di rumah,” imbuhnya.
Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, mengatakan bahwa Festival Memengan merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional. Kegiatan ini juga diikuti secara daring oleh seluruh SD di Banyuwangi, dengan total peserta mencapai 900 siswa dari 25 kecamatan.
“Di Jawa Timur hanya Banyuwangi yang memiliki permainan (memengan) tradisional semacam ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain,” kata Suratno.











