Salah satu bangunan yang mendapat sentuhan arsitek di Banyuwangi adalah Bandara Internasional Banyuwangi. Bangunan yang dirancang oleh Andramatin ini, ini mengedapankan konsep ramah lingkungan dan atribusi lokalitas. “Alhamdulillah, bandara kita ini, tidak hanya nyaman, tapi juga banyak mendapat apresiasi dari tingkat nasional hingga internasional,” ujar Ipuk.
“Baru-baru saja, bandara Banyuwangi ini mendapatkan penghargaan internasional dalam bidang arsitektur, Aga Khan Award. Ini merupakan penghargaan yang diterima Indonesia setelah lebih dari 20 tahun absen,” cerita Ipuk yang menerima langsung penghargaan itu di Oman beberapa waktu lalu.
Ipuk berharap, dengan terselenggaranya Festival Arsitektur Nusantara ini, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menghadirkan bangunan yang baik dan sadar lingkungan. “Sehingga nantinya tata ruang di Banyuwangi bisa semakin baik,” pungkasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya, Perumahan dan Pemukiman Kabupaten Banyuwangi Danang Hartanto mengungkapkan, kegiatan tersebut menjadi ajang bagi para peminat dunia arsitektur. “Tidak hanya yang dari Banyuwangi saja, tapi juga dari luar kota juga banyak yang tertarik untuk terlibat,” terangnya.
Danang memaparkan ada ratusan peserta yang terlibat dalam sejumlah lomba yang digelar dalam Festival Arsitektur Nusantara tersebut. Tidak kurang 78 peserta yang mengikuti Wawarah in Osing, 49 peserta lomba masterplane perumahan MBR, dan 44 peserta lomba fotografi bangunan bertema Etnic Elit. “Pada malam ini, kita akan memberikan penganugerahan bagi para pemenang,” ungkapnya.
Untuk lomba Wawarah in Osing dimenangkan oleh pasangan Julia Rimadini dan Khoirunnisa sebagai juara pertama. Sedangkan untuk lomba desain masterplane perumahan MBR dimenangkan oleh Riski Saputra. Adapun lomba fotografi dijuarai oleh Ikrom Nur Wahid Setiawan. (*)












