Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan, rute ini memadukan antara olahraga, alam, dan budaya. “Alas Purwo sendiri juga masuk ke dalam Ijen Geopark yang telah diakui Unesco,” kata Ipuk
Ipuk berharap agar para pembalap dan penonton dapat mengapresiasi keindahan alam Banyuwangi sambil menikmati ketegangan kompetisi. “Jadi bukan hanya menguji adrenalin, Tour de Ijen kami manfaatkan untuk mengenalkan keindahan alam dan budaya yang masih kuat di Banyuwangi,” tambahnya.
Guntur Priambodo, Chairman TdBI, menjelaskan bahwa tantangan utama etape kedua terletak pada segmen KoM di daerah Songgon. “Kenaikan mencapai 418 meter dan elevasi 7 persen, ini akan menjadi bagian paling menantang dari etape ini, membutuhkan kekuatan dan strategi yang baik dari para pebalap untuk memenangkan poin bagi para climber,” papar Guntur.
Selain KoM Songgon, rute ini juga mencakup tiga titik Intermediate Sprint yang berlokasi di Bandara Blimbingsari (kilometer 45,7), SMPN 2 Genteng (kilometer 91,8), dan Pasar Srono (kilometer 118,9).
Guntur menekankan perbedaan karakteristik antara etape pertama dan kedua. “Etape 1 mungkin memang panggungnya sprinter, tapi di etape 2 ini berbeda. Yang bisa kombinasi dan interval timenya bagus, dia yang juara. Bisa jadi yang juara etape 1 belum tentu juara di etape 2,” pungkasnya. //////









