Banyuwangi, seblang.com – Proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya kembali mengungkap fakta pilu. Dua jenazah yang diduga merupakan korban kecelakaan kapal tersebut ditemukan mengapung ke permukaan pada Minggu (1/2/2026) pagi.
Kedua jenazah langsung dievakuasi dan menjalani proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI). Satu jenazah dibawa ke RSUD Blambangan, Banyuwangi, sementara satu jenazah lainnya berada di RSUD Negara, Bali.
Jenazah pertama ditemukan sesaat setelah kapal derek mengangkat sejumlah kendaraan dari bangkai kapal yang tenggelam. Saat ditemukan, korban mengenakan celana panjang hitam dan celana dalam jenis boxer. Di saku celananya terdapat sebuah telepon genggam serta dompet berisi kartu identitas.
Berdasarkan identifikasi awal, jenazah tersebut diketahui bernama I Wayan Teja Setyawan (34), warga Kelatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Korban merupakan anak buah kapal (ABK) KMP Tunu Pratama Jaya.
Kepastian awal itu membuat pihak keluarga mendatangi kamar jenazah RSUD Blambangan. Isak tangis pun pecah saat proses pencocokan ciri-ciri korban dilakukan bersama petugas.
Kakak korban, Eko, mengungkapkan detik-detik terakhir adiknya sebelum kapal terbalik. Menurutnya, sang adik sempat tertidur di dalam kapal.
“Adik saya sempat tertidur. Dia dibangunkan oleh ABK lain dan diberi pelampung. Namun pelampung itu justru diberikan kepada penumpang,” ujar Eko.
Tak lama kemudian, kapal mulai miring hingga akhirnya terbalik. Dalam kondisi tersebut, korban diduga hanyut terbawa arus laut.
“Setelah itu kapal terbalik, dan adik saya ikut hanyut,” tambahnya.
Eko juga menyampaikan bahwa adiknya meninggalkan dua orang anak. Anak pertama masih duduk di bangku TK besar, sementara anak kedua baru berusia 48 hari.
“Saat kejadian, istri adik saya sedang hamil. Anak keduanya sekarang baru berusia 48 hari. Jenazah adik saya ditemukan sekitar seminggu setelah selapan anaknya,” kata Eko dengan suara bergetar.
Meski keluarga meyakini identitas korban, pihak kepolisian menegaskan bahwa penetapan resmi tetap harus melalui prosedur DVI.
“Secara SOP, dari DVI belum bisa langsung disebutkan nama karena ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi hingga bisa disimpulkan secara resmi,” kata Kasatpolairud Polresta Banyuwangi, Kompol Muchammad Wahyudi, Senin (2/2/2026).
Namun demikian, dengan mempertimbangkan keyakinan pihak keluarga, jenazah sementara diserahkan sebagai jenazah tanpa identitas sambil menunggu hasil identifikasi lanjutan.
Sementara itu, jenazah kedua yang juga diduga korban KMP Tunu Pratama Jaya ditemukan oleh seorang nelayan di perairan Selat Bali.
Komandan Pos Angkatan Laut (Danposal) Gilimanuk, Lettu Laut (P) Yuli Prasetyo, menjelaskan lokasi penemuan berada di sisi utara Pelabuhan LCM Gilimanuk.
“Lokasi penemuan sekitar 300 meter dari pelabuhan, atau kurang lebih 20 meter dari lampu suar atau buoy merah–kuning,” jelasnya.
Setelah penemuan tersebut, TNI AL berkoordinasi dengan instansi terkait untuk proses evakuasi oleh Satpolair Polresta Banyuwangi, sekaligus melakukan pemantauan posisi jenazah melalui jalur darat.
Kasatpolairud Polresta Banyuwangi menambahkan bahwa jenazah kedua hingga kini masih berada di RSUD Negara.
“Jenazah kedua masih kami komunikasikan karena identitasnya belum jelas. Nanti akan ada keterangan lanjutan dari rumah sakit,” ujarnya.
Menurut Wahyudi, jenazah kedua ditemukan tidak jauh dari lokasi penemuan jenazah pertama dan dalam kondisi tidak lengkap.///////////









