Banyuwangi, seblang.com – Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Dr. Rofiq Ripto Himawan memaparkan sejumlah persoalan sosial dan kemanusiaan yang dinilai menjadi tantangan serius di Banyuwangi. Hal itu disampaikan saat memberikan sambutan dalam acara Silaturahmi Akbar PCNU Banyuwangi, Jumat (13/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Rofiq memperkenalkan diri sebagai Kapolresta Banyuwangi yang baru menjabat sekitar dua bulan. Ia mengaku masih terus belajar memahami karakter masyarakat Banyuwangi dengan meminta masukan dari para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para sesepuh daerah.
“Saya mohon bimbingan dari para sesepuh dan alim ulama. Saya masih harus banyak belajar untuk memahami karakter masyarakat Banyuwangi agar kepemimpinan yang saya jalankan bisa lebih konstruktif,” ujarnya.
Rofiq juga memaparkan tantangan yang dihadapi kepolisian di Banyuwangi. Saat ini, jumlah personel Polresta Banyuwangi tercatat sekitar 1.023 orang, jauh di bawah kebutuhan ideal yang mencapai 2.227 personel.
Sementara itu, jumlah penduduk Banyuwangi mencapai sekitar 1,7 juta jiwa. Kondisi tersebut membuat setiap anggota polisi harus melayani lebih dari 1.700 warga dengan berbagai persoalan sosial yang muncul setiap hari.
“Masalah yang kami tangani beragam, mulai dari laporan kriminal, konflik batas pekarangan, anak yang tidak pulang ke rumah, hingga persoalan rumah tangga seperti istri yang pamit belanja namun pulang ke rumah orang lain. Dinamikanya sangat kompleks,” jlentrehnya.
Namun yang paling menyentuh baginya adalah persoalan kemanusiaan yang terjadi di masyarakat. Dalam dua bulan terakhir, Polresta Banyuwangi sudah dua kali menerima pengiriman jenazah pekerja migran asal Banyuwangi dari luar negeri.
Padahal, kata dia, para pekerja migran tersebut berangkat dengan harapan memperbaiki ekonomi keluarga.
“Mereka berangkat mencari rezeki, tetapi pulang dalam kondisi sudah menjadi jenazah. Ini persoalan serius yang harus kita tangani bersama,” ungkapnya.
Terlebih lagi, maraknya penipuan terkait penempatan kerja ke luar negeri dalam lima tahun terakhir menunjukkan angka yang mencengangkan. Tercatat lebih dari 100 laporan kasus penipuan yang berkaitan dengan tawaran kerja di luar negeri.
Untuk menangani persoalan tersebut, Polresta Banyuwangi telah membentuk tim khusus yang fokus menangani kasus pekerja migran serta berbagai bentuk kejahatan kemanusiaan.
“Ini serius dan saya sudah membentuk tim khusus. Saya minta dukungan panjenengan semua, karena ini kejahatan kemanusiaan,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Banyuwangi. Berdasarkan data tahun 2025, tercatat 1.013 kasus kecelakaan dengan 267 korban meninggal dunia.
Yang lebih memprihatinkan, sekitar 40 persen korban meninggal merupakan anak-anak.
“Ini angka yang sangat mengkhawatirkan. Keselamatan lalu lintas bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Persoalan lain yang juga menjadi perhatian adalah kasus pembuangan bayi. Dalam masa tugasnya yang baru dua bulan, polisi telah menemukan dua kasus bayi yang dibuang.
Ironisnya, dari hasil penyelidikan, salah satu pelaku diketahui berasal dari kalangan tenaga pendidik.
“Ini menunjukkan ada persoalan moral dan sosial yang perlu kita tangani secara serius,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa berbagai persoalan tersebut tidak bisa ditangani oleh kepolisian saja. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk dukungan tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan.
“Masalah-masalah ini adalah masalah kemanusiaan. Tidak bisa diselesaikan oleh polisi sendiri. Kita perlu bekerja bersama untuk menyelamatkan nilai-nilai kemanusiaan di Banyuwangi,” pungkasnya.///////////











