Lebih lanjut, TK mengatakan terkait kejadian korban yang diduga mengalami perundungan dan sampai dicekoki pil koplo. Hal tersebut, berawal dari informasi pengakuan salah satu teman korban.
“Sebelumnya dia (korban) sempat minta uang ke saudara ayahnya. Ayahnya ini kan sudah meninggal, korban ini anak yatim. Saat itu diberi uang, untuk beli es itu. Kalau yang ngasih obat (pil koplo) ke minumannya itu, gak ngerti teman yang mana,” ujarnya.
Terkait kapan pil koplo tersebut sampai dikonsumsi korban. Menurut TK, dari pengakuan salah satu teman korban. Dilakukan saat korban pergi ke kamar mandi pemandian tempat korban berenang dengan teman-temannya.
“Saat pergi ke kamar mandi itu, minuman itu dicampur dengan pil koplo katanya. Kemudian korban tidak sadarkan diri. Setelah gak sadar itu, korban dibawa ke lapangan belakang SD, katanya di lapangan itu korban diinjak-injak, niatnya supaya sadar. Tapi anaknya sudah tidak kuat, sudah tidak berdaya,” ungkapnya.
Kemudian korban dibawa ke Kecamatan Tanggul oleh teman-temannya, lebih lanjut kata TK, korban kemudian dibawa ke saluran irigasi yang terdapat aliran mirip air terjun.
“Di sana lokasi kejadian awal korban di tenggelamkan di air agar sadar. Karena tidak sadar, korban dibawa ke sekitar Lapangan Pondok Rampal, untuk diinjak-injak oleh teman-temannya. Masih belum sadar, korban kemudian dibawa ke aliran sungai dekat rumahnya untuk ditenggelamkan lagi sampai ketemu ibunya,” ucap TK sambil menjelaskan.
Terkait kejadian ini, Ibu korban bersama keluarganya membuat laporan polisi ke Mapolsek Semboro.
“Laporan polisi itu dilakukan, setelah hari Minggu kemarin korban baru sadar sekitar pukul 3 subuh. Keluarga ke Polsek Semboro sekitar sore harinya,” jelasnya.
“Dari pihak keluarga pelaku (ada yang menemui) minta damai. Cuma pihak keluarga itu nggak mau, soalnya ini kan urusan nyawa, terus anak itu kan sendirian dikeroyok. Apalagi waktu ditemukan, kondisi korban menggigil, nafasnya susah. Bahkan di Puskesmas itu, harus dibantu dengan oksigen,” imbuhnya.
Terpisah, Kapolsek Semboro Iptu Andrias Suryo Rubedo saat dikonfirmasi mengatakan masih melakukan penyelidikan.
“Sementara ini kita belum bisa mengambil kesimpulan, namun hasil olah TKP di lapangan dan keterangan saksi-saksi, itu masih baru asumsi. Fakta sebenarnya, korban ini masih belum ingat apa yang dialaminya,” ucap Andrias.
Dari keterangan sejumlah saksi terkait kejadian tersebut. Korban bermaksud ditolong oleh teman-temannya. “Tapi caranya yang menempelkan kaki di perutnya, tidak menggunakan tangan. Tampak sesuatu yang tidak layak. Sehingga masih kami lidik,” ungkapnya.
“Korban saat ini ada dirumahnya, bisa diajak komunikasi. Kami masih lidik, terkait kejadian yang dialami,” tandasnya.











